Taksi Hijau Disorot Usai Tragedi Kereta Bekasi, DPR Minta Izin Dicabut!
JAKARTA, GENVOICE.ID - Tragedi kecelakaan maut antara KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi terus memunculkan fakta baru, salah satunya adalah DPR RI yang menilai ada peran pihak lain di balik rangkaian kejadian tersebut.
Anggota Komisi VI DPR RI, Kawendra Lukistian, meminta pemerintah mengambil langkah tegas terhadap perusahaan taksi Green SM atau yang dikenal sebagai "taksi hijau". Ia menduga kendaraan tersebut menjadi pemicu awal kecelakaan beruntun yang menelan banyak korban jiwa.
Menurut Kawendra, insiden ini tidak bisa dianggap sebagai kejadian tunggal. Ia mengungkapkan bahwa sudah ada beberapa laporan dari masyarakat terkait taksi tersebut yang kerap berhenti di perlintasan rel kereta api.
"Ini bukan sekadar insiden tunggal. Sudah beberapa kali terhenti di perlintasan kereta api dan banyak aduan masyarakat terkait taksi ini," ujarnya.
Ia juga menyoroti bahwa perjalanan panjang transformasi layanan kereta api di Indonesia tidak seharusnya tercoreng akibat kelalaian pihak eksternal. Sebagai pengguna KRL pada periode 2006 hingga 2010, Kawendra mengaku menyaksikan langsung bagaimana sulitnya proses pembenahan yang dilakukan oleh PT KAI hingga mencapai kondisi saat ini.
Karena itu, ia menilai pemerintah perlu melakukan evaluasi serius, bahkan mempertimbangkan pencabutan izin operasional perusahaan taksi asal Vietnam tersebut.
"Tidak berlebihan jika kita meminta pemerintah mengevaluasi dan mencabut izin operasionalnya," tegasnya.
Di tengah kritik tersebut, Kawendra juga menyampaikan duka mendalam atas tragedi yang terjadi. Ia berharap para korban meninggal mendapatkan tempat terbaik dan korban luka diberi kekuatan untuk pulih.
Sementara itu, Polda Metro Jaya mencatat jumlah korban meninggal dunia akibat kecelakaan ini mencapai 15 orang. Rinciannya, 10 jenazah berada di RS Polri, tiga di RSUD Bekasi, satu di RSU Bella, dan satu lainnya di RS Mitra Keluarga.
Untuk korban luka, tercatat sebanyak 76 orang, meski belum dirinci jenis luka yang dialami.
Tragedi ini kini menjadi perhatian serius berbagai pihak. Selain penanganan korban, tuntutan evaluasi terhadap sistem keselamatan dan pihak-pihak yang terlibat pun semakin menguat.