Diangkat dari Kisah Nyata, Film "Surat untuk Masa Mudaku" Resmi Tayang di Netflix Hari Ini
JAKARTA, GENVOICE.ID - Film orisinal Netflix Indonesia berjudul "Surat untuk Masa Mudaku" resmi tayang mulai Kamis, 29 Januari 2026. Menjelang perilisannya, Netflix menggelar konferensi pers sekaligus special screening bersama para pemeran dan kreator film tersebut di Jakarta, Selasa (28/1).
"Surat untuk Masa Mudaku" menjadi kolaborasi perdana Netflix dengan sutradara Sim F. dan rumah produksi Buddy Buddy Pictures, yang sebelumnya dikenal lewat film "Susi Susanti - Love All" (2019). Film ini mengangkat cerita yang terinspirasi dari pengalaman nyata kehidupan di panti asuhan, dengan fokus pada luka masa lalu, kehilangan, dan proses berdamai dengan diri sendiri.
Film ini berkisah tentang persahabatan tak terduga antara seorang remaja pemberontak dan seorang pengurus panti asuhan yang telah lanjut usia. Pertemuan keduanya membuka ruang refleksi tentang trauma masa lalu yang belum sembuh, sekaligus menghadirkan harapan baru bagi masa depan mereka.
Dalam konferensi pers, Sim F. menjelaskan bahwa cerita film ini lahir dari pengamatannya terhadap kehidupan anak-anak panti asuhan. Menurutnya, banyak kisah tentang rasa ditinggalkan, kesedihan, dan harapan yang jarang tersorot secara mendalam.
"Ceritanya terinspirasi dari kehidupan nyata di panti asuhan, seperti perjuangan anak-anak di sana, rasa sedih karena ditinggal, sekaligus harapan yang tetap mereka simpan," ujar Sim F. Ia menegaskan bahwa meski terinspirasi dari pengalaman pribadi, film ini bukanlah sebuah biopik.
Penulis naskah Daud Sumolang bersama Sim F. meramu berbagai potongan kisah nyata menjadi satu tema besar, yakni rasa kehilangan yang dialami oleh karakter Kefas, baik saat remaja, dewasa, hingga sosok Pak Simon sebagai pengurus panti.
Film ini dibintangi oleh Theo Camillo Taslim sebagai Kefas remaja dan Fendy Chow sebagai Kefas dewasa. Theo mengungkapkan bahwa karakter yang ia perankan merupakan sosok keras kepala yang menyimpan banyak kekecewaan masa lalu. Untuk mendalami peran, ia melakukan observasi langsung ke panti asuhan dan berdiskusi intens dengan sutradara.
Sementara itu, Fendy Chow menilai kisah Kefas dewasa memiliki kedalaman emosional yang kuat. Ia menggambarkan bagaimana trauma masa kecil bisa tetap membekas hingga seseorang membangun keluarga sendiri. Demi menjaga kesinambungan karakter, Fendy juga menyesuaikan gestur dan logat agar versi Kefas dewasa tetap terasa terhubung dengan masa remajanya.
Agus Wibowo yang memerankan Pak Simon menyebut karakternya sebagai sosok penting dalam konflik cerita. Pak Simon digambarkan sebagai figur dingin dan apatis akibat pahitnya pengalaman hidup, kondisi yang secara emosional beririsan dengan latar belakang Kefas.
Selain Theo Camillo Taslim, Fendy Chow, dan Agus Wibowo, film ini turut dibintangi Aqila Herby, Cleo Hanura Nazhifa, dan Halim Latuconsina. Dengan pendekatan drama yang intim, "Surat untuk Masa Mudaku" diharapkan mampu menyentuh penonton lewat kisah persahabatan, trauma, dan upaya memaafkan masa lalu.