Daya Beli Konsumen di AS Turun usai Shutdown
JAKARTA, Genvoice.id - Setelah berhentinya operasi pemerintahan federal AS selama 43 hari atau yang dikenal sebagai "shutdown", ada tanda-tanda bahwa daya beli konsumen di Amerika Serikat melemah signifikan. Survei kepercayaan konsumen dan data penjualan menunjukkan bahwa warga semakin menahan pengeluaran, akibat kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi, inflasi, dan pasar tenaga kerja.
Menurut survei The Conference Board, indeks kepercayaan konsumen AS di November 2025 turun ke 88,7 dari 95,5 di Oktober menjadikannya level terendah sejak April 2025.
Sementara itu, survei terpisah oleh University of Michigan mencatat bahwa indeks sentimen konsumen turun menjadi 50,3 pada November, posisi terendah dalam tiga setengah tahun terakhir. Penurunan terjadi merata di berbagai lapisan masyarakat, tanpa memandang tingkat pendapatan maupun afiliasi politik.
Penyebab utama penurunan kepercayaan tersebut adalah kekhawatiran meningkat atas kondisi ekonomi pasca-shutdown, dari kemungkinan hilangnya bantuan sosial, ketidakpastian pekerjaan, hingga kenaikan harga barang sehari-hari.
Selain itu, dalam laporan Federal Reserve (The Fed) menyatakan bahwa belanja konsumen di AS secara keseluruhan terus turun sejak awal Oktober hingga pertengahan November 2025.
Penurunan konsumsi paling terasa pada kelas menengah ke bawah. Banyak rumah tangga menahan pembelian barang besar atau menunda pengeluaran.
Data ritel terbaru juga menunjukan dukungan terhadap tren ini. Penjualan eceran (retail sales) pada September 2025 hanya naik 0,2% dan bila komponen seperti otomotif, bensin, dan layanan makanan dikeluarkan, volume penjualan ritel justru mengalami penurunan.
Penurunan indeks kepercayaan, ditambah data belanja dan ritel yang melemah, menunjukkan bahwa rakyat Amerika merasakan dampak langsung dari krisis politik dan ekonomi belakangan ini.
Kini, pemulihan daya beli konsumen akan sangat bergantung pada stabilitas pasar tenaga kerja, pengendalian inflasi, dan pemulihan kepercayaan publik.