Arsenal Tersingkir dari Piala Liga, Sikap Arteta ke Pemain 16 Tahun Jadi Sorotan
JAKARTA, GENVOICE.ID - Arsenal harus menerima hasil mengejutkan setelah disingkirkan Fleetwood Town melalui adu penalti pada babak 16 besar Piala Liga Inggris. Namun, kekalahan tersebut bukan satu-satunya hal yang menjadi sorotan. Reaksi manajer Mikel Arteta terhadap pemain muda Max Dowman yang mendapat kartu merah turut menuai kritik.
Dowman, yang baru berusia 16 tahun, sebelumnya mencuri perhatian setelah mencetak dua gol saat Arsenal mengalahkan Ipswich Town pada babak sebelumnya. Penampilan itu membuat Arteta kembali memberinya kesempatan tampil sebagai starter ketika Arsenal bertandang ke markas Fleetwood.
Kesempatan tersebut juga hadir di tengah terbatasnya pilihan Arsenal di sektor sayap. Bukayo Saka, Christos Tzolis, dan Noni Madueke sedang mengalami cedera sehingga Dowman mendapat peluang lebih besar untuk tampil.
Namun, pertandingan berjalan di luar perkiraan Arsenal. Meski mencatatkan 26 tembakan dan menguasai 78 persen penguasaan bola, The Gunners kesulitan menuntaskan peluang. Setelah bermain imbang 1-1 selama waktu normal, mereka akhirnya kalah melalui adu penalti.
Situasi Arsenal semakin sulit setelah Dowman diusir keluar lapangan. Ia mendapat kartu merah usai bereaksi terhadap tekel keras Harrison Neal dengan menggerakkan kakinya ke arah pemain Fleetwood tersebut. Meski tidak sampai benar-benar menendang lawannya, gerakan itu membuat wasit Michael Salisbury mengambil keputusan untuk mengeluarkannya dari pertandingan.
Kartu merah tersebut menjadi yang kedua bagi Dowman pada bulan ini. Sebelumnya, ia juga diusir dari lapangan ketika membela timnas Inggris U-19 pada jeda internasional.
Reaksi Arteta kepada Dowman Tuai Kritik
Saat Dowman meninggalkan lapangan, Arteta terlihat memberikan tatapan tajam dan melontarkan sesuatu kepada sang pemain ketika ia berjalan menuju lorong stadion. Seusai pertandingan, manajer asal Spanyol itu mengungkapkan bahwa ia sudah membicarakan persoalan tersebut dengan Dowman sebelum laga dimulai.
"Ketika kami mempersiapkan pertandingan ini, kami sudah sangat jelas mengenai hal-hal yang harus dihormati dan emosi yang harus kami kendalikan. Semuanya sudah sangat jelas," kata Arteta.
Meski demikian, mantan gelandang Arsenal Paul Merson menilai Arteta seharusnya menunjukkan pendekatan berbeda kepada pemain yang masih berusia 16 tahun tersebut.
Merson mengingatkan bahwa Dowman masih dalam tahap perkembangan dan belum memiliki pengalaman sebanyak pemain senior. Menurutnya, rasa frustrasi bisa muncul ketika seorang pemain muda mendapat kesempatan bermain, tetapi kesulitan menunjukkan performa terbaiknya.
"Anda harus ingat bahwa dia baru berusia 16 tahun. Dia masih anak-anak," ujar Merson kepada Sky Sports.
Ia juga mempertanyakan apakah Arteta akan memberikan reaksi serupa jika pemain yang melakukan pelanggaran tersebut merupakan pemain senior dan berpengalaman seperti Viktor Gyokeres.
Merson menilai Arteta seharusnya merangkul dan menenangkan Dowman, terutama karena Arsenal masih memiliki kesempatan untuk memenangkan pertandingan ketika skor berada di posisi 1-1.
Menurutnya, reaksi sang manajer merupakan momen yang mungkin akan disesali jika dilihat kembali setelah emosi mereda.
Dowman Diminta Belajar dari Kesalahan
Mantan gelandang Everton Leon Osman memiliki pandangan berbeda mengenai kartu merah tersebut. Ia menilai Dowman memang tidak memiliki alasan kuat untuk menghindari hukuman wasit.
Osman mengakui bahwa pertandingan berlangsung keras dengan sejumlah tekel dari kedua tim. Namun, ia menegaskan bahwa pemain berkualitas harus mampu mengendalikan diri ketika menghadapi tekanan fisik dari lawan.
"Reaksinya buruk dan kita berharap dia belajar dari kejadian ini, serta belajar dengan cepat," kata Osman melalui BBC Radio 5 Live.
Dowman sebelumnya juga pernah mendapat perhatian karena kemampuannya sebagai salah satu pemain muda potensial di Eropa. Arteta sendiri pernah menyatakan bahwa sang pemain harus membiasakan diri menghadapi perlakuan keras dari para pemain lawan.
Insiden melawan Fleetwood pun menjadi ujian penting bagi perkembangan Dowman, terutama dalam hal pengendalian emosi ketika menghadapi pertandingan dengan intensitas tinggi.
Arteta Tetap Membela Performa Pemain Arsenal
Di luar insiden kartu merah, kekalahan dari Fleetwood menjadi hasil yang mengecewakan bagi Arsenal. Fleetwood berada 84 tingkat di bawah Arsenal dalam piramida kompetisi sepak bola Inggris, sehingga kemenangan mereka menjadi salah satu kejutan di Piala Liga.
Arteta menurunkan komposisi pemain yang cukup eksperimental. Pemain berusia 18 tahun Ceadach O'Neill menjalani debut, sementara Marli Salmon yang berusia 17 tahun dimainkan sebagai bek tengah. Dowman mengisi posisi sayap, sedangkan kiper Illan Meslier mencatatkan penampilan pertamanya sebagai starter untuk klub.
Meski memberi kesempatan kepada sejumlah pemain muda, Arteta tetap menurunkan beberapa pemain berpengalaman, termasuk Jurrien Timber, Piero Hincapie, Martin Zubimendi, Kai Havertz, dan Viktor Gyokeres.
Arsenal juga memasukkan kapten Martin Odegaard serta Bruno Guimaraes dari bangku cadangan. Namun, pergantian tersebut tidak cukup untuk menghindarkan mereka dari kekalahan.
Arteta mengakui hasil tersebut sebagai hari yang menyedihkan bagi timnya, tetapi tetap memberikan apresiasi kepada Fleetwood atas keberhasilan mereka melaju ke babak berikutnya.
"Pertama-tama, selamat kepada Fleetwood karena berhasil melaju ke babak berikutnya. Cara mereka meraih kemenangan itu membuat hari ini sangat menyedihkan bagi kami," kata Arteta.
Ia menambahkan bahwa dirinya tidak mempermasalahkan sikap, penerapan instruksi, maupun determinasi para pemain Arsenal. Menurutnya, para pemain telah menunjukkan tekad sejak awal pertandingan, termasuk setelah tim harus bermain dengan 10 orang.
Namun, Arsenal tetap gagal mengatasi tekanan Fleetwood dan kebobolan gol yang dinilai Arteta terlalu mudah sehingga memberikan momentum kepada lawan.
Kegagalan ini juga memperpanjang penantian Arsenal untuk kembali menjuarai Piala Liga Inggris. The Gunners terakhir kali mengangkat trofi kompetisi tersebut pada 1993.
Arsenal sebelumnya juga pernah tersingkir dari klub divisi bawah, yakni Bradford City melalui adu penalti pada 2012. Pada 2015, mereka disingkirkan Sheffield Wednesday yang saat itu berkompetisi di Championship.
Kini, Arsenal harus segera mengalihkan perhatian ke pertandingan berikutnya melawan Liverpool pada Minggu. Namun, pilihan pemain di sektor sayap menjadi persoalan tersendiri karena Dowman harus menjalani skorsing, Saka diperkirakan absen sekitar enam pekan, Tzolis masih menjalani pemulihan, dan Madueke juga tidak tersedia akibat cedera.
Situasi tersebut membuat Arteta perlu mencari solusi agar Arsenal dapat kembali tampil kompetitif setelah tersingkir secara mengejutkan dari Piala Liga.