Studi Ungkap PHEV Justru Hasilkan Lebih Banyak Emisi CO2 dari yang Diklaim Pabrikan

Genvoice.id | 28 Oct 2025

JAKARTA, GENVOICE.ID - Kendaraan Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) selama ini dianggap sebagai solusi transisi ideal menuju era elektrifikasi penuh. Namun, hasil studi terbaru dari organisasi lingkungan Transport & Environment (T&E) justru mengungkap temuan mengejutkan - mobil PHEV ternyata menghasilkan emisi karbon dioksida (CO2) jauh lebih tinggi dibandingkan data resmi pabrikan.

Dilansir dari CarsCoops, Senin, T&E menganalisis 80.000 kendaraan dan menemukan bahwa PHEV yang digunakan dalam kondisi nyata di Eropa mengeluarkan CO2 hampir lima kali lebih banyak dibanding hasil uji laboratorium.

Dalam laporan sebelumnya pada 2021, T&E mencatat rata-rata emisi CO2 dari PHEV mencapai 134 gram per kilometer, atau 3,5 kali lipat lebih tinggi dari angka resmi pabrikan yang hanya 38 gram per kilometer. Kini, perbedaannya semakin besar. Produsen mengklaim emisi karbon rata-rata hanya 28 gram per kilometer, namun hasil pengujian di lapangan menunjukkan angka sebenarnya mencapai 139 gram per kilometer.

Kondisi ini menunjukkan bahwa konsumen yang membeli PHEV dengan harapan mengurangi jejak karbon justru berpotensi mengeluarkan biaya bahan bakar lebih besar sekaligus menambah emisi karbon.

Menurut T&E, salah satu penyebab utama kesenjangan ini adalah penghitungan emisi yang terlalu optimis dari pihak produsen. Beberapa pabrikan diduga memanfaatkan metode pengujian resmi yang tidak sepenuhnya mencerminkan perilaku penggunaan sehari-hari, guna menghindari sanksi denda atas pelanggaran batas emisi.

Lembaga pembuat kebijakan di Eropa kini mulai menyadari masalah tersebut dan tengah menyiapkan aturan baru untuk memperketat perhitungan "faktor utilitas", yaitu estimasi seberapa sering mobil PHEV digunakan dalam mode listrik.

Saat ini, PHEV dengan jangkauan listrik 60 kilometer diasumsikan mampu menempuh perjalanan dalam mode elektrik selama lebih dari 80 persen waktu pemakaian. Namun, regulasi baru akan menurunkan angka tersebut menjadi 54 persen pada 2025/26 dan 34 persen pada 2027/28 agar hasil perhitungan lebih realistis.

Meski begitu, T&E memperkirakan kesenjangan antara klaim dan kenyataan masih akan tetap ada sekitar 18 persen meskipun kerangka kerja baru sudah diterapkan.

Temuan ini menjadi peringatan bagi konsumen dan pembuat kebijakan bahwa PHEV bukan solusi jangka panjang untuk emisi rendah, melainkan hanya langkah sementara yang masih menyisakan masalah efisiensi dan transparansi data.