Dua Pemecatan, Dua Cerita: Kontras Nasib Thiago Motta dan Igor Tudor di Juventus

Genvoice.id | 28 Oct 2025

JAKARTA, GENVOICE.ID - Thiago Motta dan Igor Tudor datang ke Turin membawa harapan besar untuk mengembalikan kejayaan Juventus.

Namun, keduanya justru meninggalkan klub dalam waktu singkat, meninggalkan dua kisah berbeda tentang ruang ganti, tekanan, dan cara klub raksasa Serie A itu menangani krisis.

Motta hanya bertahan delapan bulan sebelum dipecat pada Maret lalu. Rangkaian hasil buruk, mulai dari kekalahan beruntun atas Atalanta dan Fiorentina, tersingkirnya Juventus di Coppa Italia oleh Empoli, hingga gugur di Liga Champions melawan PSV Eindhoven, membuat posisinya tak lagi bisa dipertahankan.

Sebagai pengganti, Juventus menunjuk Igor Tudor yang sempat sukses membawa klub finis empat besar di akhir musim.

Namun, perjalanan Tudor pun berakhir cepat. Pada Senin pagi, Juventus mengumumkan pemecatan pelatih berusia 46 tahun itu dan menyerahkan posisi sementara kepada manajer tim Next Gen, Massimo Brambilla, hingga pelatih baru ditunjuk.

Menurut jurnalis Italia Francesco Cosatti, dua pemecatan tersebut tak bisa disamakan. Dalam wawancaranya dengan JuventusNews24, koresponden Sky Sport Italia itu menilai bahwa kepergian Motta jauh lebih "dramatik" dan penuh tekanan dibanding Tudor.

"Dari sisi manusiawi, saya akan mengatakan bahwa kepergian Tudor tidak terlalu dramatis. Ini jelas berbeda dengan pekan-pekan terakhir masa Thiago Motta. Akhir dari masa Motta jauh lebih traumatis dari sudut pandang ini," ujar Cosatti.

Cosatti menambahkan, jika Motta kehilangan kendali atas ruang ganti dan kepercayaan para pemain, Tudor justru masih memiliki hubungan yang baik dengan skuad hingga hari terakhirnya. Salah satu bukti yang menonjol adalah dukungan terbuka dari kiper Mattia Perin setelah pertandingan terakhir musim ini.

"Dari apa yang bisa kita simpulkan, hubungan Tudor dengan skuad masih cukup baik. Kata-kata Mattia Perin yang kita dengar tadi malam menggambarkan hal itu dengan jelas. Perin adalah sosok penting di tim ini dan sangat memahami dinamika ruang ganti," kata Cosatti.

Dalam situasi Juventus yang masih berusaha bangkit dari krisis finansial dan performa, dua pemecatan ini memperlihatkan bahwa stabilitas masih menjadi tantangan besar bagi manajemen klub.

Motta terdepak di tengah suasana panas dengan tim yang terpecah dan hasil mengecewakan, sementara Tudor meninggalkan klub dengan kepala tegak, masih dihormati pemain dan tanpa drama di belakang layar.

Bagi Cosatti, perbedaan keduanya menjadi cermin bahwa masa depan seorang pelatih di Juventus tidak hanya ditentukan oleh hasil di lapangan. Cara mereka mengelola ruang ganti dan menjaga kepercayaan pemain sering kali menjadi pembeda antara perpisahan yang penuh gejolak dan perpisahan yang tetap bermartabat.