4 Fakta Menarik di Balik Sejarah Sumpah Pemuda yang Jarang Diketahui

Genvoice.id | 28 Oct 2025

JAKARTA, GENVOICE.ID - Setiap tanggal 28 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda, sebuah momentum penting yang menandai puncak pergerakan pemuda menuju kemerdekaan. Peringatan ini berawal dari ikrar yang dicetuskan dalam Kongres Pemuda Kedua pada 27-28 Oktober 1928.

Di balik deklarasi bersejarah tersebut, tersimpan beberapa fakta menarik mengenai proses lahirnya Sumpah Pemuda. Berikut adalah rangkuman empat fakta yang patut diketahui, merujuk pada beberapa literatur sejarah:

  1. Rumusan Ikrar Belum Bernama "Sumpah Pemuda"

Saat Kongres Pemuda berlangsung, rumusan ikrar yang dibacakan oleh para peserta tidak memiliki nama atau judul spesifik.

Penyebutan istilah "Sumpah Pemuda" sebagai sebutan resmi baru muncul beberapa hari setelah kongres berakhir, seiring dengan penetapan tanggal pembacaan ikrar sebagai hari peringatan.

  1. Naskah Ikrar Ditulis oleh Mohammad Yamin

Kongres Pemuda II diprakarsai oleh Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI). Dalam susunan kepanitiaan, Mohammad Yamin menjabat sebagai sekretaris. Ia memiliki peran sentral dalam merumuskan dan merapikan struktur hasil diskusi maraton kongres.

Yamin dengan cepat merumuskan tiga poin ikrar tersebut di secarik kertas. Naskah inilah yang kemudian diserahkan kepada Ketua Kongres, Sugondo Djojopuspito, untuk dibacakan, sebelum akhirnya dijelaskan lebih lanjut oleh Yamin sendiri.

  1. Diikrarkan di Gedung Milik Warga Tionghoa

Sumpah Pemuda diikrarkan di Gedung Indonesische Clubgebouw, Weltevreden. Fakta menariknya, bangunan tersebut merupakan rumah pondokan atau asrama pelajar milik seorang warga Tionghoa bernama Sie Kok Liong.

Kongres tersebut juga dihadiri oleh perwakilan pemuda keturunan Tionghoa, menunjukkan semangat persatuan yang inklusif sejak awal. Gedung ini kini telah diabadikan sebagai Museum Sumpah Pemuda di Jalan Kramat Raya 106, Jakarta Pusat.

  1. Momen Perdana Lagu "Indonesia Raya" Diperdengarkan

Lahirnya Sumpah Pemuda bertepatan dengan momen bersejarah diperdengarkannya lagu "Indonesia Raya" untuk pertama kalinya. Sang pencipta, W.R. Soepratman, memainkan lagu ciptaannya di hadapan peserta kongres menggunakan biola.

Meski saat itu pemerintah kolonial Belanda sempat melarang lagu tersebut, semangat para pemuda untuk menyanyikannya dengan penuh kebanggaan justru semakin berkobar.

Momen Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 ternyata menyimpan sederet fakta unik yang menunjukkan betapa kuatnya semangat persatuan pemuda kala itu, bahkan di tengah tekanan penjajahan.

Dari naskah yang dirumuskan cepat oleh Mohammad Yamin hingga diperdengarkannya lagu Indonesia Raya untuk pertama kali, semua menjadi jejak sejarah yang krusial.

Kisah-kisah ini mengingatkan kita bahwa persatuan di atas segala perbedaan, baik suku maupun ras, sudah menjadi DNA bangsa ini sejak awal pergerakan. Memahami sejarah Sumpah Pemuda bukan hanya ritual tahunan, tetapi juga mengamalkan nilai-nilai persatuan pemuda di masa kini.