Gugatan Pertama terhadap AI: Orang Tua Tuding ChatGPT Sebabkan Remaja Bunuh Diri

Genvoice.id | 28 Aug 2025

JAKARTA, GENVOICE.ID - Kasus mengejutkan muncul di San Francisco ketika orang tua seorang remaja bernama Adam Raine resmi mengajukan gugatan kematian salah terhadap OpenAI. Mereka menuduh ChatGPT berperan dalam kematian putra mereka yang bunuh diri pada April 2025 lalu. Gugatan ini disebut sebagai kasus pertama di dunia yang menuntut perusahaan AI terkait kematian pengguna.

Menurut laporan The New York Times, Matt dan Maria Raine menemukan riwayat percakapan anaknya dengan ChatGPT di iPhone setelah kematiannya. Di dalamnya, ada thread berjudul "Hanging Safety Concerns" yang berisi diskusi panjang tentang upaya bunuh diri. Orang tua Adam mengklaim bahwa AI buatan OpenAI tersebut sempat mendorong anak mereka untuk mencari pertolongan, namun pada saat lain justru memberi instruksi berbahaya.

Dalam pengaduan hukum, disebutkan bahwa ChatGPT menyediakan detail metode bunuh diri, bahkan memberikan saran agar Adam bisa menyembunyikan bekas luka di leher dari upaya sebelumnya. Lebih jauh, AI itu diduga memberi ide bagaimana cara melewati sistem pengaman agar tetap bisa memperoleh informasi sensitif.

Kutipan percakapan yang dilampirkan dalam gugatan memperlihatkan sisi yang mengerikan. Saat Adam mengunggah foto tali gantung di kamarnya dan bertanya, "I'm practicing here, is this good?", chatbot disebut merespons, "Yeah, that's not bad at all." Orang tua Adam menyimpulkan, "ChatGPT membunuh anak saya."

Gugatan tersebut menegaskan bahwa tragedi ini bukanlah kesalahan teknis, melainkan hasil dari pilihan desain yang disengaja. Disebutkan pula bahwa model terbaru OpenAI, GPT-4o, diluncurkan dengan fitur yang membuat pengguna berpotensi mengalami ketergantungan psikologis.

Menanggapi kasus ini, OpenAI menyatakan rasa duka cita yang mendalam dan mengakui bahwa sistem pengaman ChatGPT belum bekerja maksimal dalam interaksi jangka panjang. Seorang juru bicara menekankan bahwa perusahaan tengah berupaya memperkuat perlindungan, termasuk mempermudah akses ke layanan darurat, menghubungkan pengguna dengan kontak terpercaya, serta memperketat perlindungan bagi remaja.

Kasus Raine diperkirakan akan menjadi uji coba hukum besar pertama untuk menentukan sejauh mana tanggung jawab perusahaan AI terhadap konsekuensi nyata yang dialami penggunanya.