Edy Khemod Angkat Skena Musik Indonesia Lewat Detail Menarik di Film "Operasi Pesta Copet"
JAKARTA, GENVOICE.ID - Sutradara Edy Khemod menyisipkan banyak elemen yang merepresentasikan skena musik Indonesia dalam film debut panjangnya bersama Imajinari, "Operasi Pesta Copet". Tak hanya mengangkat latar festival musik sebagai inti cerita, drummer band Seringai itu juga menghadirkan identitas musik independen Tanah Air melalui berbagai detail visual, termasuk kaus merchandise yang dikenakan para pemain.
Pilihan busana para karakter bukan dibuat secara acak. Edy sengaja menghadirkan merchandise dari sejumlah band lintas genre sebagai bagian dari upaya mendokumentasikan wajah skena musik Indonesia pada era sekarang.
Dalam trailer resmi yang telah dirilis, Kristo Immanuel terlihat mengenakan kaus kolaborasi Seringai x Raisa serta merchandise The Panturas. Sementara itu, Iqbaal Ramadhan tampil memakai kaus The Adams dan Teenage Death Star. Kawai Labiba juga terlihat mengenakan merchandise dari The Adams dan The Jansen.
Saat peluncuran trailer resmi "Operasi Pesta Copet" di XXI Plaza Senayan, Jakarta, tim produksi menjelaskan bahwa pemilihan wardrobe dilakukan melalui riset yang mendalam. Kawai Labiba mengungkapkan perhatian terhadap detail tidak hanya diberikan kepada para pemeran utama, tetapi juga ratusan figuran yang terlibat dalam produksi.
Menurutnya, tim wardrobe berusaha membangun dunia dalam film agar terasa hidup dan autentik, termasuk melalui pakaian yang digunakan setiap karakter.
Iqbaal Ramadhan menambahkan bahwa penggunaan merchandise band bukan sekadar pelengkap visual, melainkan menjadi penanda budaya musik Indonesia pada dekade 2020-an. Ia berharap film tersebut dapat menjadi dokumentasi yang tetap relevan ketika ditonton bertahun-tahun mendatang.
"Musisi-musisi yang dipakai merch-nya memang kebanyakan musisi-musisi yang kurang lebih menjadi penanda zaman untuk di hari ini. Sehingga harapannya film Operasi Pesta Copet kalau ditonton 15-25 tahun kemudian, keponakan-keponakan gue, saudara-saudara kita yang masih kecil akan terbayang kira-kira di 2020-an tuh skena musik kita tuh seperti apa sih," ujar Iqbaal.
Bagi Edy Khemod, "Operasi Pesta Copet" sejak awal memang dirancang sebagai potret kultur festival musik Indonesia. Namun, ia memilih menyajikannya dari sudut pandang yang tidak biasa, yakni melalui kehidupan para pencopet yang menjadikan konser sebagai tempat mencari nafkah.
Menurut Edy, para pencopet justru mempelajari karakteristik setiap pertunjukan musik secara lebih mendalam dibanding sebagian penonton. Mereka memahami pola konser demi menentukan waktu yang tepat untuk beraksi.
Produser Dipa Andika mengaku riset mengenai aktivitas para pencopet menjadi salah satu hal paling mengejutkan selama proses pengembangan cerita. Ia menjelaskan para pelaku bahkan mempelajari lagu-lagu yang paling ramai, momen penonton bergerak serempak, hingga karakter penggemar dari setiap band.
Hal serupa diungkapkan promotor Pestapora, Ucup. Menurutnya, pencopet mengetahui kapan sebuah band biasanya mengajak penonton membuat mosh pit, melompat bersama, atau berjongkok sebelum kembali berdiri. Momen-momen tersebut dianggap sebagai kesempatan yang paling sering dimanfaatkan untuk melakukan aksi pencopetan.
"Operasi Pesta Copet" dibintangi Iqbaal Ramadhan, Kristo Immanuel, Zulfa Maharani, Kawai Labiba, serta Fauzan Lubis yang menjadi debutnya sebagai aktor film layar lebar. Film ini juga diproduseri Ernest Prakasa, Dipa Andika, James Erlangga, dan Iqbaal Ramadhan.
Film ini mengikuti kisah empat sahabat, yakni Ijal, Adut, Tia, dan Melodi, yang hidup di tengah keterbatasan ekonomi. Sulitnya memperoleh pekerjaan membuat mereka memilih menjadi pencopet di konser musik sebagai jalan bertahan hidup. Di balik aksi kriminal tersebut, film ini berusaha menampilkan sisi kemanusiaan para karakternya sekaligus mengingatkan penonton agar tetap waspada terhadap tindak pencopetan saat menghadiri festival musik.
"Operasi Pesta Copet" dijadwalkan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 27 Agustus 2026.