Trump dan Uni Eropa Capai Kesepakatan Dagang Bersejarah, Tarif Impor Ditetapkan 15 Persen
JAKARTA, GENVOICE.ID - Presiden AS Donald Trump dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengumumkan kesepakatan dagang besar yang mengakhiri empat bulan ketegangan perdagangan antara Washington dan Brussels. Lewat pertemuan singkat selama 40 menit di Turnberry Golf Resort, Skotlandia, kedua pihak sepakat menerapkan tarif impor sebesar 15% untuk sebagian besar ekspor Uni Eropa ke Amerika Serikat, jauh di bawah ancaman sebelumnya sebesar 30%.
Von der Leyen menyebut kesepakatan ini sebagai "langkah besar" yang menghadirkan stabilitas dan kepastian dalam hubungan dagang dua kekuatan ekonomi dunia. Sementara Trump menyebutnya "kemitraan penting" dan "kesepakatan yang kuat" karena mencakup pembelian energi dan semikonduktor AS oleh Eropa senilai $750 miliar, serta investasi balik UE sebesar $600 miliar.
Namun, kesepakatan ini tak sepenuhnya mulus. Tarif 50% untuk baja tetap berlaku, yang menjadi pukulan bagi sektor industri di Eropa. Selain itu, sektor farmasi juga sempat membingungkan publik setelah Trump menyatakan tidak termasuk dalam kesepakatan, meski von der Leyen kemudian menegaskan bahwa tarif 15% akan berlaku untuk produk farmasi.
Sejumlah sektor lain seperti penerbangan, bahan kimia, pertanian, dan sumber daya alam akan mendapatkan tarif nol persen. Kanselir Jerman Friedrich Merz menyambut baik kesepakatan ini karena berhasil menghindari perang dagang yang bisa menghantam industri ekspor Jerman, terutama sektor otomotif.
Namun, beberapa pemimpin Eropa lainnya masih menunggu rincian lebih lanjut. PM Italia Giorgia Meloni menyebut kesepakatan ini "positif" tapi perlu kajian mendalam, mengingat Italia memiliki surplus perdagangan lebih dari €40 miliar dengan AS.
Dari sisi politik, kesepakatan ini menunjukkan keberhasilan strategi tekanan tarif Trump. Tarif 15% yang disepakati jauh lebih tinggi dari rerata tarif era sebelum Trump, yaitu 4,8%. Namun, Uni Eropa menekankan pentingnya "kepastian bagi pelaku usaha" sebagai alasan utama penerimaan kompromi ini.
Kesepakatan ini juga membuka celah diplomatik di Irlandia Utara, yang akan dikenai tarif berbeda dari Republik Irlandia. Deputi PM Irlandia Simon Harris mengungkapkan penyesalan atas tarif tinggi, tapi menyebut stabilitas tetap jadi prioritas.
Dunia kini menanti dampak kesepakatan ini terhadap hubungan dagang AS dengan negara lain, termasuk China dan Inggris, yang juga sedang dalam tahap negosiasi lanjutan.