Sejarah dan Transformasi Jakarta Fair Kemayoran: Ikon Festival Terbesar di Ibu Kota

Genvoice.id | 28 Jun 2025

JAKARTA, GENVOICE.ID - Setiap tahun menjelang ulang tahun Jakarta, masyarakat selalu menantikan tradisi besar bernama Pekan Raya Jakarta (PRJ) atau yang kini dikenal sebagai Jakarta Fair Kemayoran (JFK).

Dilansir dari Antara, acara ini bukan hanya pameran dagang dan hiburan semata, tetapi juga cerminan perkembangan Jakarta selama lebih dari setengah abad.

Sejarah Jakarta Fair bermula dari tradisi pasar malam terbesar di kawasan Gambir pada era kolonial. Pertama kali digelar pada 31 Agustus 1898, pasar malam ini rutin diadakan setahun sekali selama satu pekan di bulan Agustus hingga September untuk merayakan ulang tahun dan penobatan Ratu Wilhelmina dari Belanda. Acara tersebut menghadirkan beragam hiburan seni, kuliner khas, serta produk-produk yang ditawarkan kepada masyarakat Batavia. Hingga 1936, pasar malam ini berhasil menarik sekitar 310.000 pengunjung. Namun, tradisi ini terhenti ketika pendudukan Jepang pada 1942.

Pasca kemerdekaan, berbagai pasar malam mulai bermunculan di Jakarta. Pada 1960-an, Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin berinisiatif menyatukan pasar malam tersebut menjadi festival terbuka dan terpusat yang lebih besar, dengan tujuan mendorong pertumbuhan industri nasional dan memperkenalkan produk lokal ke masyarakat luas. Ia menunjuk Haji Syamsudin Mangan, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin), untuk merealisasikan ide ini dan membentuk panitia sementara pada 1967.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kemudian menetapkan Djakarta Fair sebagai agenda tahunan melalui Peraturan Daerah No. 8 Tahun 1968. Pekan Raya Jakarta pertama kali digelar pada 5 Juni hingga 20 Juli 1968 di kawasan Monas dan diresmikan oleh Presiden Soeharto dengan simbol pelepasan burung merpati. Acara ini sukses menarik lebih dari 1,4 juta pengunjung dan menjadi salah satu festival terbesar saat itu. Tahun berikutnya, Djakarta Fair bahkan berlangsung selama 71 hari, dengan popularitas yang semakin melejit hingga menarik perhatian Presiden Amerika Serikat Richard Nixon.

Seiring waktu, pengelolaan acara diserahkan kepada Yayasan Penyelenggara Pameran dan Pekan Raya Jakarta, dan nama "Jakarta Fair" mulai digunakan secara resmi. Dari tahun 1968 hingga 1991, festival ini tetap diselenggarakan di Monas. Karena lonjakan pengunjung yang terus meningkat, pada 1992 Jakarta Fair pindah ke Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, sebuah lahan seluas 44 hektare yang mampu menampung ribuan peserta dan jutaan pengunjung setiap tahunnya. Bersamaan dengan itu, nama acara pun berubah menjadi Jakarta Fair Kemayoran (JFK).

Jakarta Fair Kemayoran terus berkembang menjadi ajang internasional yang tidak hanya menampilkan perusahaan besar, tetapi juga memberikan ruang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memperluas pasar mereka. Berbagai produk mulai dari otomotif, elektronik, fashion, kecantikan, kuliner, hingga peralatan rumah tangga tersedia lengkap di sini.

Tahun 2025, Jakarta Fair kembali digelar mulai 19 Juni hingga 13 Juli dengan tema "Jakarta Fair Kemayoran Mendukung Indonesia Maju Melalui Inovasi dan Karya Bangsa Berkelanjutan". Tema ini mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama mendorong pertumbuhan UMKM dan industri kreatif agar mampu bersaing di pasar global.

Selain program diskon besar-besaran, parade budaya, konser musik dari artis papan atas, dan pesta kembang api megah juga menjadi daya tarik utama. Jakarta Fair kini bukan sekadar pameran produk unggulan, tetapi telah bertransformasi menjadi pusat hiburan keluarga yang dapat dinikmati berbagai kalangan usia, menjadikannya salah satu destinasi rekreasi wajib di Ibu Kota.