Iran Tolak Lanjutkan Negosiasi Nuklir: AS Dianggap Pengkhianat, Gencatan Senjata Tak Hentikan Ketegangan!

Genvoice.id | 28 Jun 2025

JAKARTA, GENVOICE.ID - Di tengah bara konflik yang baru saja mereda, Iran secara tegas menyatakan belum ada komitmen untuk melanjutkan negosiasi nuklir dengan Amerika Serikat.

Dilansir darii Antara, Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, dalam wawancara dengan TV pemerintah IRIB pada Kamis (26/6), menegaskan bahwa tidak ada kesepakatan apa pun yang dibuat, menyusul serangan udara besar-besaran dari AS dan Israel terhadap wilayah Iran.

"Keputusan kami sepenuhnya akan didasarkan pada kepentingan nasional. Jika itu mengharuskan kami kembali ke meja perundingan, kami akan mempertimbangkannya. Namun saat ini, tidak ada pembicaraan atau janji," kata Araghchi.

Araghchi menuduh Washington mengkhianati Iran dalam negosiasi sebelumnya terkait kebangkitan kembali Kesepakatan Nuklir 2015 (JCPOA) dan pencabutan sanksi. Ia menekankan bahwa Iran tidak akan mengulangi kesalahan yang sama tanpa jaminan perlindungan terhadap kepentingan negaranya.

Ketegangan terbaru dipicu oleh serangan Israel pada 13 Juni yang menargetkan fasilitas militer dan nuklir Iran, menewaskan sejumlah komandan senior, ilmuwan nuklir, dan warga sipil. Hanya dua hari setelah serangan itu, negosiasi antara AS dan Iran dijadwalkan digelar di Muscat, Oman, namun situasi berubah drastis.

Sebagai pembalasan, Iran meluncurkan gelombang serangan rudal dan drone ke Israel, menyebabkan korban jiwa dan kerusakan besar. Situasi semakin memanas ketika pada 21 Juni, AS membalas dengan menghantam tiga situs nuklir utama Iran, mendorong Iran untuk menembakkan rudal ke Pangkalan Udara Al Udeid milik AS di Qatar dua hari kemudian.

Iran juga mengambil langkah serius dengan mengesahkan undang-undang untuk menangguhkan kerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA), menyusul tudingan bahwa lembaga tersebut bersikap bias dan tidak mampu menjamin keamanan situs nuklir Teheran.

"UU ini sekarang mengikat dan akan diterapkan. Bentuk kerja sama kami dengan IAEA akan berubah total," ujar Araghchi.

Meski gencatan senjata mulai berlaku pada 24 Juni setelah 12 hari konflik berdarah, Iran menegaskan bahwa kerusakan yang ditimbulkan sangat serius. Para ahli dari Organisasi Energi Atom Iran (AEOI) saat ini tengah melakukan penilaian atas kerusakan fasilitas nuklir, sementara pemerintah tengah menyusun agenda tuntutan ganti rugi.