Film Dokumenter BTS di Netflix Disorot, Army Kritik Porsi Jungkook dan Kisah Jin di Album "ARIRANG"

Genvoice.id | 28 Mar 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID - Film dokumenter terbaru dari BTS yang dirilis di Netflix justru memicu perdebatan di kalangan penggemar. Alih-alih hanya menampilkan perjalanan comeback, tayangan ini membuka berbagai dinamika internal yang menuai kritik dari Army.

Salah satu sorotan utama datang dari minimnya kemunculan Jungkook. Meski durasi film mencapai lebih dari satu setengah jam, banyak penggemar menilai sang maknae hanya mendapatkan porsi layar yang sangat terbatas, bahkan disebut hanya sekitar lima menit tampil signifikan.

Di media sosial, potongan adegan Jungkook yang terlihat jarang berbicara cepat viral. Beberapa penggemar menilai ia kerap terpotong saat mencoba menyampaikan pendapat, terutama ketika berdiskusi dengan anggota lain yang lebih dominan. Hal ini memicu kekecewaan karena dianggap tidak mencerminkan kontribusinya sebagai salah satu member utama.

Selain itu, perhatian juga tertuju pada Jin, terutama terkait keterlibatannya dalam album "ARIRANG". Dalam dokumenter tersebut, terungkap bahwa jadwal tur solo membuat Jin harus bergabung di tahap akhir produksi album di Los Angeles.

Bahkan, Jin sempat mengajukan permintaan agar proses rekaman ditunda beberapa hari demi bisa berpartisipasi lebih maksimal. Namun, permintaan itu tidak dapat dipenuhi karena jadwal produksi yang ketat dari pihak manajemen.

Dalam salah satu momen, Jin mengungkapkan perasaannya yang cukup emosional. Ia mengaku merasa kesulitan menemukan posisinya dalam album tersebut karena datang ketika sebagian besar materi sudah selesai. Meski begitu, ia tetap berusaha menyesuaikan diri dengan pengalaman panjangnya bersama grup.

Adegan yang memperlihatkan kondisi fisik Jin yang kelelahan usai perjalanan panjang dari tur ke studio rekaman turut memancing simpati penggemar. Banyak yang menilai manajemen kurang memberi ruang yang cukup bagi artis untuk berkontribusi secara optimal.

Di tengah kritik tersebut, interaksi antara J-Hope dan pendiri HYBE, Bang Si-hyuk, justru menjadi sisi lain yang menarik perhatian. Dalam beberapa adegan, J-Hope terlihat santai bahkan berani menyampaikan pendapat yang berbeda, mencerminkan hubungan yang lebih terbuka antara artis dan manajemen.

Meski ada momen positif tersebut, sebagian besar Army tetap menyoroti ketidakseimbangan representasi dalam dokumenter. Mereka berharap ke depan akan ada transparansi dan pembagian porsi yang lebih adil, terutama dalam konten yang merepresentasikan seluruh anggota grup secara utuh.