Rudal Iran Hujani Israel, Gedung 9 Lantai Runtuh dan Wilayah Udara Ditutup
JAKARTA, GENVOICE.ID - Sirene kembali meraung di berbagai wilayah Israel, menandakan serangan rudal dari Iran belum berhenti.
Militer Israel menyatakan sistem pertahanan udara terus bekerja untuk mencegat proyektil yang masuk, namun mengakui pertahanan tidak sepenuhnya kedap.
"Pembelaan tidak bersifat kedap udara, dan oleh karena itu penting bagi masyarakat untuk terus mematuhi pedoman Komando Depan Dalam Negeri," demikian pernyataan militer Israel melalui Telegram.
Di Israel utara, sebuah bangunan sembilan lantai dilaporkan terkena dampak setelah rudal Iran dicegat. Penyiar Channel 12 Israel menyebut satu orang mengalami luka ringan akibat pecahan dari rudal pencegat. Kerusakan parah dilaporkan terjadi pada salah satu apartemen di gedung tersebut.
Militer Israel atau Israel Defense Forces (IDF) mengonfirmasi sejumlah rudal diluncurkan dari Iran ke wilayahnya. Sirene serangan udara diaktifkan di berbagai kota, dan warga diminta tetap berada dekat dengan bunker atau tempat perlindungan.
Ketegangan tak hanya terjadi di Israel dan Iran. Ledakan juga terdengar di Doha, ibu kota Qatar. Kementerian Pertahanan Qatar menyatakan seluruh rudal yang menargetkan wilayahnya berhasil dicegat oleh sistem pertahanan Patriot.
Sementara itu, kantor berita Reuters melaporkan ledakan keras terdengar di Abu Dhabi, ibu kota Uni Emirat Arab. Beberapa negara Teluk, termasuk Qatar, Kuwait, dan UEA, langsung menutup wilayah udaranya sebagai langkah antisipasi.
Di Bahrain, pemerintah mengonfirmasi bahwa markas Armada Kelima Angkatan Laut Amerika Serikat menjadi sasaran serangan rudal. Kementerian Dalam Negeri Bahrain mengeluarkan peringatan darurat dan meminta warga mencari perlindungan.
Iran sendiri disebut menargetkan pasukan Amerika Serikat di Qatar, Bahrain, Kuwait, dan UEA sebagai bagian dari respons atas serangan gabungan Washington dan Tel Aviv.
Di Teheran, sejumlah ledakan kembali terdengar setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel. Kantor berita Tasnim melaporkan dua atau lebih ledakan baru terjadi di ibu kota Iran, sementara IRNA menyebut ledakan juga terdengar di wilayah barat dan selatan kota Ilam.
Garda Revolusi Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengonfirmasi telah meluncurkan gelombang pertama rudal dan drone ke arah Israel sebagai balasan.
"Menanggapi agresi musuh, gelombang pertama serangan rudal dan drone ekstensif telah dimulai," demikian pernyataan IRGC.
Di tengah eskalasi militer, laporan dari pengawas internet global NetBlocks menyebut konektivitas nasional Iran turun drastis hingga sekitar empat persen, mengindikasikan pemadaman internet hampir total. Jaringan seluler di sejumlah wilayah Teheran juga dilaporkan terganggu.
Presiden AS Donald Trump menyatakan Washington telah memulai "operasi tempur besar" bersama Israel. Ia menegaskan tujuan utama serangan adalah menghilangkan ancaman rudal Iran.
Dalam pernyataan bernada keras, Trump menyebut Amerika Serikat akan menghancurkan sistem rudal dan industri pertahanan Iran, serta memastikan Teheran tidak pernah memperoleh senjata nuklir.
Di sisi lain, media pemerintah Iran melaporkan Presiden Masoud Pezeshkian dalam kondisi aman.
Pemerintah Iran menutup seluruh wilayah udaranya hingga waktu yang belum ditentukan. Langkah ini diambil di tengah ancaman eskalasi lebih lanjut dan potensi gangguan penerbangan internasional.
Militer Israel juga mengumumkan keadaan darurat nasional dan meminta warga tetap dekat dengan tempat perlindungan. Sirene peringatan terus diaktifkan sebagai antisipasi terhadap kemungkinan gelombang serangan berikutnya.
Dengan rudal yang terus diluncurkan, pangkalan militer di kawasan Teluk menjadi sasaran, dan wilayah udara sejumlah negara ditutup, konflik ini berisiko meluas menjadi konfrontasi regional yang lebih besar. Dunia kini menanti, apakah eskalasi ini akan berhenti pada saling balas terbatas atau justru berkembang menjadi perang terbuka di Timur Tengah.
Artikel Terkait
Artikel terkait tidak ditemukan.