Waspada! Ancaman Virus Nipah Kian Dekat, Ini Langkah Pencegahan dari Kemenkes
JAKARTA, GENVOICE.ID - Kekhawatiran publik terhadap virus Nipah kembali meningkat setelah beberapa kasus dikonfirmasi di negara bagian Benggala Barat, India pada awal 2026, termasuk beberapa tenaga kesehatan yang terinfeksi. Penyakit yang disebabkan oleh virus ini memiliki tingkat kematian yang tinggi, antara sekitar 40% hingga 75% menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan sampai saat ini belum ada vaksin atau obat khusus yang tersedia secara luas.
Meski wabah sudah terjadi di negara lain, Aji Muhawarman selaku Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) menyatakan belum didapati kasus virus Nipah di dalam negeri. Namun pemerintah tetap meningkatkan kewaspadaan nasional dengan mengaktifkan sistem deteksi dini dan pemantauan di pintu-pintu masuk negara, seperti bandara dan pelabuhan, untuk mencegah potensi masuknya virus melalui pelaku perjalanan dari luar negeri.
Salah satu usaha pemerintah adalah memperketat skrining kesehatan terhadap pelaku perjalanan internasional, termasuk pemeriksaan status kesehatan dalam 21 hari terakhir negara asalnya, serta sistem pemantauan melalui aplikasi atau sistem informasi kekarantinaan. Selain itu, laboratorium nasional disiapkan reagen khusus untuk mendeteksi virus Nipah melalui tes PCR jika diperlukan.
Masyarakat juga diimbau untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) sebagai langkah pencegahan utama. Ini termasuk mencuci tangan secara teratur, memasak makanan dan minuman hingga matang, serta menghindari kontak langsung dengan hewan yang menjadi inang alami Nipah, seperti kelelawar buah dan babi. Mengonsumsi nira atau buah yang berpotensi terkontaminasi air liur kelelawar sebaiknya dihindari.
Kementerian Kesehatan mengimbau warga yang baru bepergian dari India atau negara lain yang memiliki kasus Nipah agar segera mencari layanan medis bila dalam 14 hari setelah pulang muncul gejala seperti demam, batuk, sesak napas, muntah, atau penurunan tingkat kesadaran.
Ahli epidemiologi juga mengingatkan bahwa meski Indonesia belum melaporkan kasus, potensi transmisi tetap ada terutama karena populasi kelelawar yang tersebar luas di wilayah negara dan interaksi manusia-hewan yang tinggi di beberapa daerah. Oleh karena itu, pemantauan klinis dan pengawasan penyakit di fasilitas kesehatan menjadi kunci untuk mendeteksi dini jika ada gejala yang mirip. Dengan ancaman tetap mengintai, pemerintah dan masyarakat diharap terus bekerja sama untuk memastikan pencegahan yang efektif demi mencegah virus Nipah memasuki dan menyebar di Indonesia.