Thailand Siaga! Periksa 1.700 Penumpang dari India Buntut Kasus Virus Nipah
JAKARTA, GENVOICE.ID - Kementerian Kesehatan Masyarakat Thailand memastikan belum menemukan kasus positif virus Nipah setelah memeriksa lebih dari 1.700 penumpang yang tiba di Bangkok dari Kolkata, Benggala Barat, India.
Wilayah tersebut sebelumnya dilaporkan mengalami wabah virus Nipah, sehingga otoritas Thailand meningkatkan kewaspadaan sejak akhir pekan lalu.
Menteri Kesehatan Thailand, Phatthana Phromphat, mengatakan pemeriksaan ketat dilakukan atas perintah langsung Perdana Menteri Anutin Charnvirakul sebagai langkah antisipasi penularan. Pemerintah menempatkan tim khusus di bandara-bandara utama untuk melakukan skrining terhadap penumpang yang datang dari wilayah terdampak.
Pihak berwenang mencatat, rata-rata hampir 700 penumpang tiba setiap hari dari Benggala Barat melalui tiga bandara utama Thailand, yakni Bandara Suvarnabhumi, Don Mueang, dan Phuket. Pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh dengan melibatkan otoritas bandara dan kementerian terkait.
"Kami telah berkoordinasi dengan Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Transportasi Phiphat Ratchakitprakarn serta otoritas bandara untuk memastikan seluruh penumpang diperiksa secara ketat," ujar Phatthana, dikutip dari The Straits Times, Rabu (28/1/2026).
Jika ditemukan kasus yang dicurigai, Departemen Ilmu Kedokteran Thailand akan segera mengisolasi penumpang tersebut dan melakukan tes virus dalam waktu maksimal delapan jam. Direktur Jenderal Departemen Pelayanan Kesehatan, Nattapong Wongwiwat, menyebut tiga rumah sakit telah disiagakan untuk menangani pasien yang diduga atau terkonfirmasi terinfeksi virus Nipah, yakni Rumah Sakit Rajavithi, Lerdsin, dan Nopparat Rajathanee.
Phatthana menegaskan, pola penularan virus Nipah berbeda dengan Covid-19. Menurutnya, individu yang terinfeksi tetapi belum menunjukkan gejala tidak dapat menularkan virus selama masa inkubasi, sehingga risiko penularan di dalam pesawat dinilai sangat rendah.
Meski demikian, virus Nipah tetap menjadi ancaman serius karena memiliki tingkat kematian yang tinggi, mencapai 75 persen. Hingga kini, belum tersedia obat maupun vaksin yang efektif untuk menangani infeksi tersebut.
Sampai berita ini diturunkan, Thailand belum mencatat satu pun kasus positif virus Nipah, baik pada periode saat ini maupun di masa lalu. Phatthana menambahkan bahwa virus Nipah sebenarnya bukan penyakit baru. Virus ini pertama kali diidentifikasi pada 1998 dan biasanya muncul dalam wabah berskala kecil di beberapa negara, termasuk India dan Bangladesh.