Pemerintah Tokyo Siapkan Aplikasi Kencan Berbasis AI untuk Para Jomblo, Indonesia Kapan Menyusul?

Genvoice.id | 28 Jan 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID - Pemerintah Metropolitan Tokyo menyiapkan terobosan baru dalam upaya mempertemukan warganya yang masih lajang dengan merilis aplikasi kencan berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Aplikasi ini ditujukan bagi warga berusia 18 tahun ke atas yang tinggal, bekerja, atau menempuh pendidikan di Tokyo.

Dikutip dari SoraNews24, teknologi AI dalam aplikasi tersebut memungkinkan pengguna menemukan pasangan yang dinilai cocok berdasarkan informasi pribadi yang dikumpulkan melalui kuisioner, layaknya aplikasi kencan pada umumnya. Namun, yang membedakan platform ini adalah keterlibatan langsung pemerintah dalam proses verifikasi data.

Setiap calon pengguna diwajibkan membuktikan status pernikahan dan pendapatan, serta mengikuti wawancara daring untuk mengonfirmasi keabsahan informasi yang diberikan. Pemeriksaan data ini dilakukan untuk memastikan keakuratan profil, sekaligus meningkatkan tingkat kepercayaan antarpengguna.

Meski sebagian orang mungkin enggan menyerahkan data sensitif seperti bukti pendapatan kepada perusahaan swasta, praktik berbagi informasi dengan pemerintah sejatinya bukan hal baru di Jepang. Sistem dasar aplikasi ini sendiri telah diuji coba sejak Desember 2023 melalui versi peramban (browser), melibatkan pegawai pemerintah dan peserta acara perjodohan yang difasilitasi pemerintah Tokyo. Masukan dari uji coba tersebut kemudian digunakan untuk menyempurnakan layanan sebelum peluncuran resmi.

Saat ini, aplikasi tersebut memang belum tersedia di toko aplikasi. Namun, masyarakat dapat mencoba versi browser melalui situs Tokyo Futari Story sambil menunggu peluncuran resmi yang dijadwalkan akhir tahun ini, setelah mendapatkan persetujuan dari distributor aplikasi.

Gagasan pemerintah Tokyo ini memunculkan beragam respons dari publik. Sebagian warga menyambutnya dengan skeptis dan mempertanyakan efektivitas aplikasi kencan dalam mengatasi masalah keterlambatan menikah dan penurunan angka kelahiran di Jepang. Beberapa menilai pemerintah seharusnya lebih fokus pada persoalan mendasar seperti stabilitas ekonomi dan jam kerja yang terlalu menuntut.

Ada pula yang menyoroti penggunaan dana pajak untuk proyek tersebut, sementara yang lain mempertanyakan kerumitan proses pendaftaran, mulai dari kewajiban foto studio hingga verifikasi data yang dianggap terlalu merepotkan, terutama bagi generasi muda. Meski demikian, sebagian masyarakat tetap melihat aplikasi ini sebagai alternatif menarik, khususnya bagi mereka yang serius mencari pasangan dengan sistem yang lebih terjamin.

Terlepas dari kritik dan keraguan yang muncul, pemerintah Tokyo tampaknya tetap melangkah dengan rencana peluncuran aplikasi ini. Bagi para jomlo di ibu kota Jepang, platform kencan berbasis AI tersebut bisa menjadi pilihan baru di tengah upaya pemerintah mencari solusi atas persoalan demografi yang kian mendesak.