Dianggap Bikin Gaduh, Eks Dosen UIN Malang Akhirnya Jual Rumah Usai Diusir Warga Joyogrand
JAKARTA, GENVOICE.ID - Gen, Ada update terbaru dari konflik viral antara eks dosen UIN Malang, Imam Muslimin, dan warga di komplek Joyogrand, Lowokwaru, Kota Malang. Setelah diwarnai aksi guling-guling hingga surat pengusiran, Imam bersama istrinya, Rosida Vignesvari, akhirnya memutuskan untuk menjual rumah mereka!
Rosida, istri Imam, menyampaikan bahwa mereka sudah tidak nyaman lagi tinggal di lingkungan tersebut. Mereka bahkan sudah mendatangi beberapa warga, termasuk Bu Sahara, RT, dan RW untuk pamitan.
"Kami minta waktu sampai dengan rumah ini laku," ujar Rosida, menambahkan bahwa sudah ada sekitar 15 orang yang tertarik menawar rumah yang baru mereka tempati sejak November 2024 itu.
Kenapa Warga Sampai Minta Mereka Pindah?
Ketua RT setempat, Prajogo Subiarto, membenarkan adanya surat keputusan warga yang meminta Imam dan istri untuk meninggalkan lingkungan. Menurut Prajogo, suasana di komplek Joyogrand sebelumnya tenang, tapi mulai gaduh setelah Imam dan istri menempati rumah tersebut.
"Sebelumnya suasana di sini tenang, saya jadi RT sejak 2019 tidak ada masalah. Jadi ketika bulan Juli sampai September sekarang ini banyak kegaduhan yang ditimbulkan," ungkap Prajogo.
Kegaduhan ini bermula dari masalah lahan tanah, yang kemudian merembet menjadi perseteruan personal dengan kata-kata yang tidak pantas kepada ibu-ibu di lingkungan setempat.
Prajogo menjelaskan, keputusan pengusiran itu adalah puncak keresahan warga. Walaupun sudah berulang kali diupayakan mediasi oleh pengurus RT sejak Juli, Imam Muslimin berulang kali melanggar kesepakatan dan kembali membuat kegaduhan. Bahkan, meski sudah sempat pamit kepada warga, Imam dan istri masih berada di rumah.
Warga akhirnya membuat 5 poin kesepakatan pengusiran sebagai sanksi sosial. Prajogo juga menegaskan bahwa Imam Muslimin sebenarnya bukan tercatat sebagai warga resmi di sana.
Saat ini, kasus ini masih berlanjut di jalur hukum. Prajogo menyatakan pihaknya menunggu hasil proses dari Polresta Malang Kota, tempat kedua belah pihak telah saling mengadu. Keputusan menjual rumah ini menjadi babak baru konflik yang tampaknya hanya bisa diselesaikan dengan kepindahan sang eks dosen.
Gimana menurut kamu, Gen, apakah ini jalan terbaik untuk menyelesaikan konflik di lingkungan perumahan?