Perusahaan Film India Ubah Ending Cerita Tragis Jadi Bahagia dengan AI, Sang Sutradara Marah Besar
JAKARTA, GENVOICE.ID - Perusahaan film India, Eros Media Group, memicu kontroversi besar setelah mengumumkan akan merilis ulang film tahun 2013 Raanjhanaa dengan akhir cerita yang diubah menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI). Film tersebut, yang dibintangi Dhanush dan Sonam Kapoor, dikenal luas karena kisah cinta tragis antara pria Hindu dan perempuan Muslim. Namun dalam versi terbaru berjudul Ambikapathy, akhir yang tragis digantikan dengan "happy ending" hasil rekayasa AI.
Yang membuat keputusan ini semakin kontroversial, sang sutradara Aanand L Rai tidak dilibatkan sama sekali dalam proses perubahan film ini. Ia bahkan baru mengetahui kabar ini dari media. "Saya hancur hati. Jika ini masa depan industri, maka niat dan hak cipta kreator tidak lagi dihargai," ujar Rai kepada Press Trust of India. Ia kini mempertimbangkan jalur hukum dan telah menghubungi asosiasi sutradara India.
CEO Eros Media, Pradeep Dwivedi, membela keputusan tersebut sebagai bagian dari "langkah eksploratif" dalam visi kreatif dan komersial perusahaan. Menurutnya, teknologi memberi peluang untuk memperbarui karya lama dengan pendekatan baru. "Jika teknologi memungkinkan dan hasilnya positif, mengapa tidak?" katanya. Ia juga menyebut bahwa Eros tengah meninjau lebih dari 3.000 film dalam katalognya untuk kemungkinan perubahan serupa.
Meski diiklankan sebagai versi alternatif dan bukan pengganti, tidak ada kepastian apakah versi ini akan menyertakan penjelasan dalam film soal penggunaan AI. Sementara itu, poster-promosi menampilkan label "AI-powered ending" secara terbuka.
Bagi banyak pelaku industri, ini menjadi alarm keras soal hak kreator di tengah arus pemanfaatan AI dalam sinema. Chief Operating Officer Colour Yellow Productions, perusahaan yang dulu bekerja sama dengan Eros dan turut memproduksi Raanjhanaa, menyebut tindakan ini "bertentangan dengan prinsip penghormatan terhadap pembuat karya."
Kritikus film Sucharita Tyagi menambahkan bahwa banyak sutradara di India memang tidak memiliki hak distribusi atas karya mereka. "Kalau film seperti Peddlers diubah dan dirilis ulang pakai AI, itu sudah bukan film yang sama," tegasnya.
Selain soal etika, perubahan ini juga menimbulkan kekhawatiran tentang bagaimana "akhir bahagia" versi AI akan memengaruhi narasi antaragama yang jadi inti dari cerita. "Cerita ini kuat justru karena menggambarkan konflik sosial. Mengganti akhirnya begitu saja setelah 13 tahun terasa mengkhawatirkan," kata Tyagi.
Ambikapathy dijadwalkan tayang ulang pada 1 Agustus, menjelang rilis film terbaru Rai, Tere Ishk Mein, yang juga dibintangi Dhanush. Eros sendiri menyangkal bahwa kedua film tersebut saling terkait. Namun yang jelas, perdebatan soal AI dan hak sutradara tampaknya baru saja dimulai.