Ganggu Wisata hingga Biodiversitas, Gulma Laut Asal Asia Serbu Pantai Selatan Spanyol

Genvoice.id | 27 Jul 2025

JAKARTA, GENVOICE.ID - Ribuan ton alga laut invasif asal Asia Tenggara tengah "menginvasi" pantai-pantai di kawasan selatan Spanyol dan Selat Gibraltar. Para pakar menyebut fenomena ini sebagai ancaman serius bagi ekosistem laut dan lingkungan setempat, dengan dampak yang meluas mulai dari pariwisata, perikanan, hingga keanekaragaman hayati.

Jenis alga bernama Rugulopteryx okamurae itu pertama kali terdeteksi di Ceuta, wilayah Spanyol di Afrika Utara, sekitar sepuluh tahun lalu. Sejak itu, penyebarannya merajalela hingga ke pesisir selatan Spanyol, Kepulauan Kanari, Azores, bahkan hingga Teluk Biscay di utara.

"Kami benar-benar kewalahan. Ini adalah bencana lingkungan," ujar José Carlos Teruel, kepala pengelolaan pantai di Cádiz. Teruel mengungkapkan bahwa hanya dalam waktu tiga bulan sejak Mei, pemerintah kota telah mengangkut lebih dari 1.200 ton alga dari Pantai La Caleta, salah satu pantai wisata utama di kawasan tersebut.

Alga ini diyakini masuk ke perairan Eropa melalui air balast kapal-kapal besar yang berlayar dari Asia lewat Terusan Suez. Tanpa predator alami di wilayah Mediterania, Rugulopteryx okamurae tumbuh tak terkendali dan menyingkirkan alga lokal, melekat di bebatuan, bahkan bisa mengapung dan menyebar lebih jauh.

Profesor biologi dari Universitas Cádiz, Juan José Vergara, menegaskan bahwa seandainya otoritas merespons lebih cepat saat pertama kali alga ini muncul, penyebarannya masih bisa dikendalikan. "Sekarang sudah terlambat. Ini seperti kanker stadium lanjut," katanya.

Tak hanya mencemari pemandangan pantai dan mengganggu wisatawan, alga ini juga menyulitkan nelayan karena menjebak jaring dan tali pancing. Selain itu, keberadaan alga ini turut menyedot oksigen dari air laut, mengganggu kehidupan organisme lainnya. Biaya pembersihan dan pembuangan gulma laut ini pun dibebankan ke anggaran publik.

Saat ini, alga yang terkumpul dibuang ke tempat pembuangan akhir. Namun, ada inisiatif dari pelaku industri lokal untuk mengolah alga ini menjadi energi biomassa, pupuk, atau bahkan kemasan ramah lingkungan. Sayangnya, undang-undang Spanyol melarang pemanfaatan spesies invasif secara komersial, kecuali dalam kondisi darurat seperti ancaman terhadap keselamatan atau kesehatan publik.

Pemerintah regional Andalusia baru saja meluncurkan rencana penanggulangan yang mencakup riset, pemantauan, edukasi, dan opsi daur ulang. Namun, Vergara pesimistis langkah tersebut akan cukup untuk mengatasi invasi dalam skala sebesar ini. "Gagasannya bagus, tapi tidak akan cukup untuk menghentikan serbuan alga ketika ratusan ribu ton bisa muncul hanya di satu pantai," ujarnya.

Dengan musim panas masih berlangsung dan arah angin belum bersahabat, warga dan pengelola pantai di selatan Spanyol tampaknya masih harus bersiap menghadapi gelombang berikutnya dari musuh tak kasatmata yang datang dari laut.