Iran Tangkap Lebih dari 700 Orang atas Tuduhan Mata-Mata untuk Israel, Tiga Dieksekusi Mati

Genvoice.id | 27 Jun 2025

JAKARTA, GENVOICE.ID - Pemerintah Iran menangkap lebih dari 700 orang atas dugaan menjadi mata-mata untuk Israel sejak 13 Juni lalu. Tiga di antaranya telah dieksekusi mati, menurut laporan kantor berita Iran, Fars News Agency, pada Rabu (25/6).

Penangkapan dilakukan oleh aparat intelijen dan keamanan di sejumlah provinsi, termasuk Kermanshah, Isfahan, Khuzestan, Fars, dan Lorestan. Operasi besar-besaran ini disebut sebagai bagian dari respons terhadap meningkatnya ketegangan antara Iran dan Israel sejak awal Juni.

Tiga orang terpidana mati dieksekusi pada Rabu pagi di Penjara Urmia, Provinsi Azerbaijan Barat. Ketiganya disebut sebagai agen yang bekerja untuk dinas intelijen Israel, Mossad, dan dituduh berupaya menyelundupkan perangkat keras ke Iran dengan kedok pengiriman alkohol, yang diklaim bertujuan untuk melakukan aksi terorisme.

Ketegangan di kawasan Timur Tengah memuncak pada 13 Juni 2025, ketika Israel melancarkan serangan mendadak terhadap sejumlah fasilitas militer dan ilmuwan nuklir Iran. Menanggapi serangan tersebut, Iran meluncurkan Operasi True Promise III, yang menyasar sejumlah instalasi militer di dalam wilayah Israel.

Konflik kemudian melibatkan Amerika Serikat. Pada 22 Juni, AS menyerang tiga lokasi nuklir strategis milik Iran di Natanz, Fordow, dan Isfahan. Presiden AS Donald Trump menyebut serangan itu sebagai "peringatan terakhir" dan mendesak Iran untuk mengakhiri perang atau menghadapi konsekuensi lebih lanjut.

Sebagai balasan, Iran menembakkan sejumlah rudal ke Pangkalan Udara Al Udeid milik AS di Qatar pada 23 Juni. Meski sebagian besar rudal berhasil dicegat, satu di antaranya mencapai target, namun tidak menyebabkan korban jiwa.

Setelah serangkaian serangan tersebut, Presiden Trump pada Senin malam (24/6) mengumumkan bahwa Israel dan Iran sepakat melakukan gencatan senjata. Gencatan ini mulai berlaku pada Selasa (25/6), dan pemerintah Israel telah mulai mencabut sejumlah pembatasan darurat nasional.

Namun, para pejabat militer Israel maupun Iran masih menyatakan kesiagaan penuh dan memperingatkan bahwa konflik belum sepenuhnya usai.