Mengenal Apa Itu El Nino: Penyebab, Jenis, dan Dampaknya Terhadap Cuaca di Indonesia

Genvoice.id | 27 May 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID -Fenomena alam El Nino diprediksi oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) akan terjadi secara signifikan pada musim kemarau 2026.

Dampak dari perubahan iklim global ini diperkirakan bakal membuat kondisi cuaca di berbagai wilayah Indonesia menjadi jauh lebih kering dan gersang dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Sebagai langkah awal mitigasi bencana hidrometeorologi, masyarakat serta sektor terkait seperti pertanian dan penyedia air bersih diimbau untuk mulai mempersiapkan strategi penanganan guna mengantisipasi dampak buruk dari berkurangnya curah hujan.

Asal-Usul Istilah dan Mekanisme Terjadinya El Nino

Secara harfiah, istilah El Nino diadopsi dari bahasa Spanyol yang memiliki arti "anak laki-laki" atau merujuk pada bayi Kristus (El Niño de Navidad).

Penamaan ini pertama kali digunakan oleh para nelayan di pesisir Peru dan Ekuador untuk menggambarkan munculnya arus laut hangat tahunan yang biasanya terjadi menjelang perayaan Natal.

Namun dalam sains meteorologi, El Nino didefinisikan sebagai kondisi anomali berupa memanasnya suhu muka laut di Samudera Pasifik bagian tengah hingga timur.

Pemanasan ini mengakibatkan pelemahan angin pasat timuran yang memicu pergeseran Sirkulasi Walker, yaitu pola perputaran udara di sekitar garis khatulistiwa.

Akibatnya, pasokan awan hujan yang seharusnya terkumpul di wilayah Indonesia justru bergeser ke arah Pasifik timur, menyebabkan berkurangnya intensitas hujan secara drastis di tanah air.

Klasifikasi Intensitas dan Potensi Ancaman Bencana di Indonesia

BMKG membagi tingkat kekuatan fenomena ini menjadi tiga kategori utama berdasarkan indeks Nino 3.4 (tingkat anomali suhu), yaitu El Nino Lemah, Moderat, dan Kuat.

Status El Nino Kuat disematkan jika nilai indeks berada di atas angka 2.0 selama minimal lima bulan berturut-turut, seperti yang pernah melanda dunia pada tahun 1997 silam hingga memicu kekeringan ekstrem berskala masif di berbagai pulau besar Indonesia.

Secara umum, dampak kering dari El Nino mulai terasa signifikan pada periode Juni hingga November. Meski begitu, BMKG menegaskan bahwa fenomena ini tidak serta-merta menghentikan turunnya hujan secara total. Pola cuaca lokal dan suhu hangat perairan Indonesia masih memungkinkan terjadinya hujan lebat di beberapa titik tertentu.

Kendati demikian, masyarakat tetap diminta waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi kering, seperti krisis pasokan air bersih, kegagalan panen sektor agraris, hingga risiko tinggi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Dengan adanya prediksi BMKG mengenai potensi El Nino yang cukup signifikan pada musim kemarau tahun 2026 ini, langkah persiapan apa saja yang sudah mulai Gen lakukan di lingkungan rumah untuk menghemat penggunaan air bersih?

Apakah daerah tempat tinggal kamu sudah mulai merasakan dampak dari penurunan curah hujan belakangan ini? Tuliskan opini dan cerita kondisi cuaca di wilayahmu pada kolom komentar di bawah!