Geger Dugaan Riset Palsu WNI di ISPPD 2026, Akademisi Ikut Geram

Genvoice.id | 27 May 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID- Dunia akademik Indonesia tengah menjadi sorotan setelah muncul dugaan praktik pemalsuan identitas dan fabrikasi data riset yang dilakukan sejumlah warga negara Indonesia dalam forum ilmiah internasional. Kasus tersebut terjadi dalam konferensi bergengsi International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026 yang digelar di Kopenhagen, Denmark.

ISPPD dikenal sebagai salah satu forum ilmiah internasional terbesar di bidang pneumonia dan penyakit pneumokokus. Acara ini diikuti ribuan ilmuwan, dokter, hingga peneliti kesehatan dari berbagai negara untuk mempresentasikan hasil penelitian terbaru.

Namun di tengah konferensi tersebut, sejumlah peserta asal Indonesia diduga melakukan pelanggaran etik serius yang kini ramai diperbincangkan publik dan kalangan akademisi.

Dugaan Pemalsuan Identitas di Forum Internasional

Kasus ini pertama kali ramai setelah diangkat melalui media sosial oleh dosen Universitas Udayana, Ida Bagus Mandhara Brasika. Melalui akun Instagram pribadinya, ia menyebut ada dugaan pemalsuan identitas yang dilakukan secara terorganisir oleh beberapa peserta asal Indonesia.

Menurut penjelasannya, para oknum diduga berganti identitas saat presentasi dengan cara mengganti jilbab dan name tag agar dapat berpindah dari satu sesi presentasi ke sesi lainnya dalam waktu singkat.

Unggahan tersebut langsung menarik perhatian publik karena tindakan tersebut dilakukan di hadapan komunitas ilmiah dunia. Beberapa nama dengan inisial RF, RW, SHN, PR, dan RD disebut ikut terseret dalam dugaan kasus tersebut.

Riset Diduga Dibuat Menggunakan AI

Tidak hanya identitas yang dipersoalkan, isi penelitian yang dipresentasikan juga dianggap janggal. Ida Bagus menyebut sejumlah data penelitian diduga palsu dan dibuat menggunakan bantuan AI.

Ia menyoroti poster penelitian yang dicetak menggunakan kertas A4 sederhana, berbeda dari standar poster ilmiah internasional yang biasanya digunakan dalam konferensi besar. Selain itu, gambar dan isi penelitian disebut memiliki pola yang mencurigakan.

Menurutnya, penelitian tersebut dibuat seolah-olah sangat meyakinkan padahal data yang digunakan diduga tidak pernah benar-benar ada.

Lokasi Penelitian Dinilai Tidak Masuk Akal

Kecurigaan semakin besar karena lokasi penelitian yang dicantumkan tersebar di berbagai negara dunia, mulai dari Peru, Ethiopia, Guatemala, Lebanon, Bangladesh, Kenya, Nepal, Malawi, hingga India bagian utara.

Meski mengklaim melakukan penelitian di banyak negara, seluruh peneliti disebut berasal dari Indonesia tanpa melibatkan kolaborator lokal maupun mencantumkan izin etik penelitian.

Selain itu, salah satu lembaga afiliasi yang tercantum dalam poster riset disebut tidak dapat ditemukan keberadaannya. Hal ini semakin memperkuat dugaan bahwa penelitian tersebut tidak dilakukan secara nyata.

Diduga Demi Mendapatkan Travel Grant

Kasus ini juga memunculkan dugaan bahwa praktik tersebut dilakukan demi memperoleh fasilitas travel grant atau hibah perjalanan dari konferensi internasional.

Para oknum disebut pernah mendapatkan penghargaan dan pendanaan perjalanan di sejumlah forum internasional lainnya. Dengan cara tersebut, mereka diduga bisa mengikuti konferensi luar negeri tanpa mengeluarkan biaya pribadi.

Meski terlihat menguntungkan, tindakan tersebut dinilai membawa dampak besar terhadap citra akademisi Indonesia di mata dunia.

Kredibilitas Akademisi Indonesia Dipertaruhkan

Skandal ini akhirnya terbongkar setelah seorang peserta asal Indonesia merasa curiga lalu melaporkannya kepada panitia konferensi. Kasus tersebut kini menjadi perhatian luas karena dianggap mencoreng nama baik peneliti Indonesia secara internasional.

Sejumlah akademisi juga menyampaikan keprihatinan mereka terhadap kasus ini. Dosen Fisika Universitas Sumatera Utara, Rica Asrosa, menilai praktik seperti itu tidak boleh dibiarkan karena dapat menjadi bibit persoalan besar di dunia akademik.

Ia mengingatkan pentingnya menjaga integritas penelitian agar kepercayaan terhadap akademisi Indonesia tidak semakin menurun di mata dunia internasional.

Kasus ini pun memicu kekhawatiran munculnya blacklist terhadap peneliti Indonesia di forum ilmiah global apabila praktik serupa kembali terjadi di masa mendatang.