Gaji Rp 5,7 Juta Cukup untuk Hidup Layak di Jakarta? Jawaban Pakar Keuangan Ini Bikin Buruh Terdiam

Genvoice.id | 26 Dec 2025

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Penetapan Upah Minimum Provinsi (UMP) 2026 kembali memicu polemik, khususnya di wilayah DKI Jakarta. Angka UMP Jakarta yang dipatok di kisaran Rp 5,7 juta menuai banyak penolakan dari kalangan buruh.

Pasalnya, nominal tersebut justru lebih rendah dibandingkan UMP Bekasi dan Karawang, daerah penyangga ibu kota yang selama ini dikenal sebagai kawasan industri dengan biaya hidup relatif lebih rendah dibanding Jakarta.

Kondisi ini memunculkan satu pertanyaan besar di tengah masyarakat, apakah gaji Rp 5,7 juta benar-benar cukup untuk menjalani hidup layak di Jakarta yang terkenal dengan biaya hidup mahal, harga sewa hunian tinggi, serta kebutuhan harian yang terus meningkat?

Menanggapi polemik tersebut, perencana keuangan dari Tatadana Consulting, Tejasari, memberikan sudut pandang yang berbeda dari mayoritas suara buruh.

Menurutnya, perdebatan soal layak atau tidaknya sebuah gaji sering kali terlalu fokus pada besar-kecilnya nominal, bukan pada bagaimana uang tersebut dikelola.

Tejasari menegaskan berapa pun penghasilan yang diterima seseorang, prinsip dasarnya tetap sama: harus mampu mencukupi kebutuhan dasar, memiliki tabungan, dan jika memungkinkan, dialokasikan juga untuk investasi. Kuncinya bukan semata angka gaji, melainkan kedisiplinan dan strategi dalam mengatur pengeluaran.

Ia menjelaskan gaya hidup dan pola konsumsi sangat berpengaruh terhadap cukup atau tidaknya sebuah gaji. Pengeluaran untuk kebutuhan dasar harus dirancang seefisien mungkin agar tidak jebol di tengah bulan.

Menurutnya, selama seseorang mampu membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan, gaji UMP Jakarta masih tergolong realistis untuk bertahan hidup di ibu kota.

"UMP Jakarta sebesar Rp 5,7 juta seharusnya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup di Jakarta. Masalahnya bukan di angka, tapi di kebiasaan penggunaan uang. Setinggi apa pun gaji seseorang, tidak akan pernah terasa cukup jika tidak dikelola dengan bijak," jelas Tejasari.

Menariknya, ia tidak hanya bicara soal bertahan hidup. Tejasari bahkan menyebut dengan gaji setara UMP Jakarta, seseorang masih memiliki peluang untuk menabung dan berinvestasi. Hal ini dimungkinkan karena kini semakin banyak instrumen investasi yang dapat diakses dengan modal kecil.

Ia mencontohkan berbagai produk keuangan yang ramah bagi pekerja dengan penghasilan terbatas, mulai dari reksadana, tabungan emas, hingga investasi saham dan aset digital seperti kripto. Dengan perencanaan yang tepat, menurutnya, investasi bukan lagi hal eksklusif bagi mereka yang bergaji belasan atau puluhan juta rupiah.

Namun demikian, pandangan ini tetap menuai pro dan kontra. Di satu sisi, pernyataan Tejasari memberikan optimisme bahwa hidup layak di Jakarta masih memungkinkan dengan gaji Rp 5,7 juta.

Di sisi lain, banyak pekerja merasa realitas di lapangan tidak sesederhana teori perencanaan keuangan, terutama bagi mereka yang harus menanggung biaya sewa, transportasi, dan kebutuhan keluarga.

Perdebatan ini pun seakan menegaskan satu hal: UMP bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan cerminan tarik-ulur antara realitas biaya hidup dan kemampuan individu dalam mengelola keuangan. Apakah Rp 5,7 juta cukup atau tidak, pada akhirnya kembali pada kondisi dan pilihan hidup masing-masing.