Terungkap! Amerika ‘Beli’ TikTok Seharga US$ 14 Miliar

Genvoice.id | 26 Sep 2025

JAKARTA, Genvoice.id - Amerika Serikat telah menyetujui kesepakatan restrukturisasi TikTok US senilai US$ 14 miliar atau setara dengan Rp234 Triliun. Kesepakatan ini ditegaskan melalui perintah eksekutif yang diteken Presiden Donald Trump, setelah tekanan hukum dan politik yang lama menyelubungi platform berbagi video tersebut.

Kesepakatan ini merupakan langkah penting dalam upaya Amerika Serikat untuk mengurangi pengaruh perusahaan asal Tiongkok, ByteDance, dalam pengelolaan TikTok di wilayah US. Berdasarkan laporan resmi Gedung Putih, operasi TikTok di AS akan dipindahkan ke entitas bernama TikTok US, di mana saham mayoritas akan dipegang oleh investor Amerika dan sekutu, termasuk Oracle, Silver Lake, dan beberapa nama besar teknologi lainnya.

ByteDance akan tetap memiliki porsi minoritas, yakni kurang dari 20%, dan hanya diberikan satu kursi di dewan direksi. Sisanya akan dikendalikan oleh investor AS dan pihak lain yang kompatibel dengan regulasi keamanan data AS.

Menjelang penandatanganan perintah eksekutif, Wakil Presiden JD Vance menyatakan bahwa transaksi ini menyasar agar TikTok tetap bisa beroperasi di AS tanpa harus diblokir, sekaligus menjaga agar data pengguna Amerika tidak menjadi alat pengaruh asing.

Perintah eksekutif tersebut juga memberikan waktu 120 hari bagi pihak-pihak terkait (AS dan Tiongkok) untuk menyelesaikan detail teknis dan persetujuan regulasi.

Kesepakatan ini berjalan di bawah latar belakang undang-undang yang cukup berat. Sejak April 2024, Amerika telah memberlakukan undang-undang Protecting Americans from Foreign Adversary Controlled Applications Act (PAFACA), yang mewajibkan aplikasi yang dianggap dikuasai oleh "musuh asing" untuk diceraikan atau dilarang di AS.

TikTok termasuk dalam daftar aplikasi yang tunduk pada aturan tersebut. Bila ByteDance gagal melepaskan kontrol sebelum batas waktu (19 Januari 2025), aplikasi dapat diblokir sepenuhnya di Amerika Serikat.

Bagi pengguna TikTok di Amerika Serikat, kesepakatan ini berarti aplikasi kemungkinan besar tetap beroperasi tanpa gangguan besar dalam jangka pendek. Namun secara perlahan, integrasi baru dalam algoritma atau kebijakan konten mungkin terjadi, seiring tim baru menyesuaikan standar keamanan dan regulasi AS.