Kawhi Leonard Disebut Pernah Tuntut Saham Lakers Sebelum Pilih Clippers
JAKARTA, GENVOICE.ID - Investigasi terbaru NBA soal Kawhi Leonard kembali membuka cerita lama yang mengejutkan. Bintang Los Angeles Clippers itu ternyata pernah meminta bagian kepemilikan saham di Los Angeles Lakers sebelum akhirnya menandatangani kontrak dengan Clippers pada 2019.
Kala itu, Lakers menjadi salah satu tim terdepan yang mengincar Leonard, namun negosiasi tak berjalan mulus. Mengutip dari MainBasket, Jumat (26/9), paman sekaligus penasihat Leonard, Dennis Robertson, disebut mengajukan sederet permintaan yang melanggar perjanjian kerja sama kolektif NBA (CBA). Permintaan tersebut antara lain akses tanpa batas ke jet pribadi, rumah, jaminan sponsor di luar lapangan, hingga kepemilikan sebagian saham Lakers.
Lakers langsung menolak karena semua syarat itu bertentangan dengan aturan liga. Menariknya, laporan dari The Athletic mengungkap bahwa Leonard dan Robertson tetap ngotot, meski pihak Lakers sudah berulang kali menjelaskan konsekuensinya. Bahkan, ada yang menyamakan permintaan Leonard dengan apa yang pernah diberikan Lakers kepada Magic Johnson pada 1990-an, ketika sang legenda mendapatkan saham tim usai pensiun dini karena HIV. Bedanya, NBA kini punya aturan ketat yang melarang kesepakatan semacam itu.
Nama Leonard kembali jadi sorotan setelah laporan Pablo Torre awal September 2025 menyebut Clippers menghindari batasan gaji dengan cara tidak biasa. Leonard diduga diarahkan menandatangani kesepakatan dukungan bersama Aspiration, sebuah perusahaan yang kini bangkrut, namun punya hubungan dengan pemilik Clippers, Steve Ballmer. Hal inilah yang akhirnya memicu investigasi resmi dari NBA.
Sejak bergabung dengan Clippers pada 2019, Leonard telah membawa ekspektasi besar. Ia adalah dua kali juara NBA dan dua kali MVP Final, dikenal dengan permainan solid serta karakter misteriusnya. Clippers juga sempat membentuk duet mematikan dengan menghadirkan Paul George, berharap bisa bersaing memperebutkan gelar. Sayangnya, performa tim kerap terhambat oleh inkonsistensi dan badai cedera, termasuk yang dialami Leonard sendiri.
Kini, dengan investigasi yang terus berkembang, nama Leonard bukan hanya dihubungkan dengan prestasi lapangan, tetapi juga strategi negosiasi kontroversial yang pernah ia tempuh. Kasus ini membuka kembali perdebatan lama tentang batasan negosiasi kontrak di NBA dan bagaimana pemain bintang mencoba memaksimalkan kekuatan tawarnya.