Gunung Anak Krakatau Erupsi Dua Kali, 36 Gempa Terekam

Genvoice.id | 26 Aug 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID - Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda masih terpantau pada Rabu (26/8/2026). Dalam pengamatan selama enam jam, gunung api tersebut tercatat mengalami dua kali erupsi pada pagi hari serta sejumlah aktivitas kegempaan.

Berdasarkan pemantauan periode pukul 06.00 hingga 12.00 WIB, tercatat 11 kali gempa letusan atau erupsi, 19 kali gempa hembusan, lima kali gempa harmonik, dan satu kali tremor menerus.

Secara visual, Gunung Anak Krakatau teramati mulai dari kondisi jelas hingga tertutup kabut 0-III. Asap dari kawah utama terlihat berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang sampai tebal. Ketinggian asap mencapai sekitar 50 hingga 250 meter dari puncak.

Petugas Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Andi Suwardi mengatakan, aktivitas kegempaan menjadi salah satu parameter penting untuk mengetahui perkembangan kondisi gunung api.

"Selain mengamati secara visual, kami juga terus memantau aktivitas kegempaan Gunung Anak Krakatau. Semua rekaman gempa dicatat dan dianalisis untuk melihat perkembangan aktivitas vulkaniknya," kata Andi, Rabu (26/8/2026).

Dua Kali Erupsi pada Pagi Hari

Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi pertama pada pukul 08.41 WIB. Saat itu, kolom abu teramati mencapai sekitar 200 meter di atas puncak atau sekitar 357 meter di atas permukaan laut.

Kolom abu berwarna kelabu dengan intensitas tebal dan bergerak ke arah barat. Erupsi tersebut terekam pada seismograf dengan amplitudo maksimum 55 milimeter dan berlangsung selama 24 detik.

Sekitar 50 menit kemudian, erupsi kembali terjadi pada pukul 09.31 WIB. Kali ini, kolom abu mencapai sekitar 100 meter di atas puncak atau 257 meter di atas permukaan laut.

Kolom abu pada erupsi kedua juga berwarna kelabu dengan intensitas tebal, tetapi bergerak ke arah barat daya. Aktivitas tersebut terekam dengan amplitudo maksimum 39 milimeter dan berlangsung selama 49 detik.

"Erupsi pukul 08.41 WIB dan 09.31 WIB sama-sama terekam di seismograf. Tinggi kolom abu dan arah sebarannya berbeda pada masing-masing erupsi," ujar Andi.

19 Gempa Hembusan Terekam

Selain erupsi, aktivitas Gunung Anak Krakatau juga ditandai dengan 19 kali gempa hembusan. Gempa tersebut memiliki amplitudo 28 hingga 51 milimeter dengan durasi 20 hingga 51 detik.

Petugas juga mencatat lima kali gempa harmonik dengan amplitudo 22 hingga 38 milimeter. Durasi gempa harmonik tersebut bervariasi, mulai dari 39 hingga 418 detik.

Sementara itu, satu kali tremor menerus terekam dengan amplitudo 2 hingga 65 milimeter dan amplitudo dominan 20 milimeter.

Andi menjelaskan, aktivitas kegempaan yang terekam tidak hanya berupa gempa letusan. Gempa hembusan, gempa harmonik, dan tremor menerus juga menjadi bagian dari data yang dianalisis untuk melihat dinamika aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.

"Kegempaan tidak hanya berupa gempa letusan. Ada juga gempa hembusan, harmonik dan tremor menerus yang terekam selama periode pengamatan," katanya.

Masyarakat Diminta Menjauh dari Kawah Aktif

Dari hasil pengamatan visual, asap kawah utama Gunung Anak Krakatau berwarna putih hingga kelabu dengan ketinggian sekitar 50 hingga 250 meter dari puncak. Intensitas asap berada pada kategori sedang hingga tebal.

Kondisi cuaca di sekitar gunung terpantau cerah hingga berawan. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat dan barat laut. Suhu udara berada pada kisaran 27,5 hingga 31,5 derajat Celsius dengan kelembapan 66 hingga 82 persen. Sementara itu, kondisi ombak laut dilaporkan tenang.

Meski kondisi cuaca dan laut relatif tenang, masyarakat tetap diminta tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau. Petugas mengingatkan kondisi tersebut bukan menjadi indikator bahwa kawasan gunung api aman untuk dikunjungi.

Andi mengimbau masyarakat, pengunjung, wisatawan, maupun pendaki untuk mematuhi rekomendasi keselamatan yang berlaku.

"Masyarakat, pengunjung, wisatawan dan pendaki tidak mendekati Gunung Anak Krakatau," tegas Andi.

Masyarakat juga diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau serta mengikuti arahan petugas demi keselamatan.