Terungkap! Otak Pembunuhan Kepala Cabang BRI Ternyata Seorang Motivator dengan Ratusan Ribu Followers
JAKARTA, GENVOICE.ID - Kabar mengejutkan datang dari kasus pembunuhan Kepala Cabang BRI Cempaka Putih, Muhammad Ilham Pradipta. Kepolisian Daerah Metro Jaya baru saja menangkap empat orang yang diduga menjadi dalang di balik kasus ini, salah satunya berinisial DH atau Dwi Hartono.
Yang bikin syok, Dwi Hartono ternyata seorang motivator terkenal di YouTube! Menurut salah satu temannya, Dwi Tanto, Dwi Hartono itu seorang motivator yang sering memberikan semangat untuk pebisnis pemula.
Dwi Tanto bahkan menunjukkan kalau akun YouTube Dwi Hartono, yang bernama Klan Hartono, sudah mempunyai 169 ribu followers. Gak nyangka, kan? Orang yang sering memberi motivasi, justru jadi aktor intelektual di balik kasus keji ini.
Dwi Tanto terakhir bertemu dengan Dwi Hartono di BSD, Tangerang Selatan. Setelah itu, dia tidak pernah lagi bertemu. Bahkan saat Tanto datang ke rumahnya, asisten rumah tangganya mengatakan kalau Dwi Hartono lagi di luar kota.
Ternyata, dia sedang sembunyi dari polisi. Dwi Tanto juga tidak pernah curiga atau tahu kalau temannya itu mempunyai riwayat kejahatan.
Ditangkap di Solo dan Jakarta
Dwi Hartono dan tiga temannya, yang berinisial YJ dan AA, ditangkap di Solo, Jawa Tengah, pada Sabtu, 23 Agustus 2025. Sementara itu, pelaku lain berinisial C ditangkap polisi di Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara, keesokan harinya.
Keempat orang ini disebut sebagai dalang di balik penculikan dan pembunuhan Kepala Cabang BRI. Sebelumnya, polisi juga sudah menangkap empat orang lain yang jadi pelaku penculikan. Keempat pelaku itu adalah AT, RS, RAH, dan RW.
Muhammad Ilham Pradipta sendiri diculik di parkiran Kantor Pusat Lotte Mart, Ciracas, Jakarta Timur. Jenazahnya ditemukan esok harinya dalam kondisi mengenaskan, dengan tangan dan kaki terikat serta mata dilakban.
Terungkapnya fakta bahwa salah satu aktor intelektual pembunuhan ini adalah seorang motivator dengan followers ratusan ribu memang mengejutkan. Kasus ini jadi pengingat bahwa kejahatan bisa dilakukan oleh siapa saja, bahkan orang yang terlihat baik di mata publik.