Kondisi Gaza Makin Mengerikan: Balita Alami Busung Lapar, Ibu Hamil Kehilangan Bayi, Dunia Diminta Bertindak

Genvoice.id | 26 Jul 2025

JAKARTA, GENVOICE.ID - Laporan terbaru dari organisasi kemanusiaan Médecins Sans Frontières (MSF) mengungkapkan bahwa kasus malnutrisi akut pada anak-anak di bawah usia lima tahun di klinik mereka di Gaza City meningkat tiga kali lipat hanya dalam dua minggu terakhir. Situasi kelaparan yang semakin parah ini, menurut MSF, merupakan akibat langsung dari blokade dan pembatasan bantuan oleh Israel yang mereka sebut sebagai "kebijakan kelaparan".

Lebih dari seperempat anak kecil, serta perempuan hamil dan menyusui yang diperiksa MSF di Gaza dinyatakan kekurangan gizi. Jumlah pasien yang membutuhkan penanganan malnutrisi di lokasi klinik MSF meningkat empat kali lipat sejak Mei.

MSF, yang memiliki lebih dari 1.000 tenaga medis di Gaza, menegaskan bahwa kelaparan kini bukan sekadar krisis kemanusiaan, tetapi juga krisis moral. "Otoritas Israel dengan sengaja menggunakan kelaparan sebagai senjata. Kami sekarang menghadapi situasi di mana pasien dan tenaga kesehatan sama-sama berjuang untuk bertahan hidup," kata MSF dalam pernyataan resminya, dikutip dari The Guardian, Sabtu (26/7).

Sementara itu, data dari otoritas kesehatan Gaza mencatat sedikitnya 122 orang telah meninggal akibat kelaparan, sembilan di antaranya hanya dalam satu hari terakhir. Program Pangan Dunia (WFP) memperkirakan satu dari tiga penduduk Gaza tidak makan selama berhari-hari, dengan 90.000 perempuan dan anak-anak membutuhkan perawatan segera.

Dr. Naji al-Qurashali, dokter spesialis kandungan di Gaza, menggambarkan situasi ini sebagai "tidak dapat dibayangkan". Menurutnya, setengah dari ibu hamil yang ia tangani mengalami malnutrisi, yang menyebabkan lonjakan keguguran dan kelahiran prematur dengan berat badan rendah atau cacat lahir.

Ia juga mengungkapkan krisis pasokan medis: dokter terpaksa menggunakan sarung tangan tidak steril dan obat-obatan kedaluwarsa. "Rasanya menyakitkan ketika tidak bisa memberikan bantuan dasar kepada para ibu," ujarnya.

Di tengah situasi ini, Israel menyangkal bertanggung jawab dan menuding PBB gagal mendistribusikan bantuan. Namun, Sekjen PBB António Guterres mengecam keras, menyebutnya sebagai "krisis moral" dan menyalahkan pembatasan Israel atas jalur distribusi bantuan.

Negara-negara Barat seperti Inggris, Prancis, dan Jerman juga menyerukan diakhirinya bencana kemanusiaan ini dan mendesak Israel untuk membuka akses bantuan. Presiden Prancis Emmanuel Macron bahkan menyatakan akan mendukung pengakuan negara Palestina di sidang umum PBB September mendatang.

Namun di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menanggapi dingin langkah Macron, menyebut pernyataan itu "tidak berdampak apa pun". Sementara itu, perundingan gencatan senjata di Qatar mengalami kebuntuan, dan masing-masing pihak saling menyalahkan atas gagalnya proses damai.

Dengan kelaparan terus merenggut nyawa, masyarakat internasional dituntut untuk tidak lagi menutup mata terhadap penderitaan warga sipil Gaza.