Bentrok Makin Panas, Kamboja Desak Thailand Hentikan Serangan dan Sepakati Gencatan Senjata
JAKARTA, GENVOICE.ID - Pemerintah Kamboja secara resmi menyerukan gencatan senjata segera tanpa syarat kepada Thailand setelah bentrokan mematikan di perbatasan kedua negara memasuki hari ketiga. Konflik bersenjata ini telah menewaskan sedikitnya 32 orang dan menyebabkan lebih dari 160 ribu warga sipil mengungsi dari wilayah perbatasan.
Dalam pertemuan darurat tertutup Dewan Keamanan PBB yang digelar Jumat malam di New York, duta besar Kamboja untuk PBB, Chhea Keo, menyampaikan bahwa negaranya mendesak penghentian total permusuhan dan mendukung penyelesaian damai atas sengketa lama yang memicu bentrokan tersebut. Sementara itu, perwakilan Thailand, Cherdchai Chaivaivid, juga menyerukan agar Kamboja menghentikan semua tindakan agresi dan kembali ke meja perundingan.
Pertempuran besar pertama terjadi pada Kamis pagi (24/7), dipicu oleh sengketa wilayah sepanjang perbatasan selatan kedua negara yang telah lama diperselisihkan sejak era kolonial. Konflik ini merupakan yang paling berdarah sejak bentrokan 2008-2011. Serangan artileri berat, termasuk tembakan roket dan laporan penggunaan amunisi curah, membuat warga sipil menjadi korban.
Militer Kamboja menuduh Thailand menembakkan lima peluru artileri ke wilayah Pursat, sedangkan Thailand menuding pasukan Kamboja melancarkan serangan ke provinsi Trat dan menanam ranjau darat baru yang melukai tentara mereka. Thailand kemudian menarik duta besarnya dari Phnom Penh dan mengancam mengusir perwakilan Kamboja dari Bangkok.
Korban tewas tercatat 19 orang di Thailand - termasuk 13 warga sipil - dan 13 orang di Kamboja. Ratusan lainnya mengalami luka-luka. Thailand mengungkap bahwa lebih dari 138 ribu warganya telah dievakuasi, sementara Kamboja melaporkan sekitar 23 ribu warga telah mengungsi dari daerah rawan konflik.
Malaysia, yang saat ini memimpin blok kawasan ASEAN, menyatakan siap menjadi mediator. Namun hingga kini, Thailand menyebut belum menerima tanggapan konkret dari Kamboja.
Menambah ketegangan, konflik ini terjadi di tengah perseteruan pribadi antara dua tokoh lama: Hun Sen, mantan penguasa otoriter Kamboja dan ayah dari perdana menteri saat ini Hun Manet, serta Thaksin Shinawatra, mantan pemimpin Thailand dan ayah dari perdana menteri saat ini Paetongtarn Shinawatra. Persahabatan masa lalu keduanya kini berubah menjadi adu sindiran sengit di media sosial.
Meski demikian, Thaksin membantah perseteruan pribadi itu sebagai penyebab utama konflik. Dalam kunjungannya ke Ubon Ratchathani, ia menyebut aksi militer Thailand sudah sesuai prosedur dan hanya menyasar target militer, sembari mengecam Kamboja atas serangan terhadap infrastruktur sipil.