Di ASEAN, Indonesia Tertinggal dalam Pengembangan Teknologi Kuantum
JAKARTA, GENVOICE.ID - Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda menegaskan, Indonesia masih tertinggal jauh dalam pengembangan teknologi kuantum dibanding negara maju maupun negara tetangga di ASEAN. Kesiapan ekosistem riset, investasi, dan industri berteknologi tinggi dinilai belum jadi prioritas nasional.
Huda menyoroti lambatnya percepatan teknologi kuantum di Tanah Air. Menurutnya, ketertinggalan itu tidak bisa dilepaskan dari fokus kebijakan yang masih berkutat pada isu dasar. "Indonesia masih mengurus program makan gratis, makanya tertinggal dalam hal teknologi kuantum," seloroh Huda.
Kesiapan teknologi Indonesia saat ini jelasnya masih sangat jauh dibandingkan Amerika Serikat sebagai negara maju. Bahkan bila dibandingkan negara tetangga ASEAN, posisi RI juga jauh tertinggal.
"Jangan jauh-jauh ke AS, dengan Malaysia dan Vietnam pun kita kalah jauh. Ada perusahaan teknologi global yang berinvestasi di Malaysia dan Vietnam. Mereka sudah memproduksi barang-barang berteknologi tinggi untuk diekspor. Sedangkan Indonesia ekspornya masih ekspor komoditas. Itu saja sudah berbeda," jelasnya.
Menurut Huda, perbedaan orientasi ekspor itu mencerminkan kedalaman struktur industri. Ketika Malaysia dan Vietnam sudah masuk ke rantai pasok produk elektronik, semikonduktor, dan komponen berteknologi tinggi, Indonesia masih dominan mengekspor bahan mentah dan komoditas.
Kesenjangan itu juga terlihat dari peringkat daya saing digital global. Huda merujuk IMD World Digital Competitiveness Ranking (WDCR) sebagai salah satu tolok ukur.
"Untuk indeks lainnya semacam IMD World Digital Competitiveness Ranking (WDCR) juga Indonesia masih kalah jauh dengan negara tetangga. Apalagi jika dibandingkan dengan AS," katanya.
Ia menilai, teknologi kuantum bukan lagi isu masa depan. Negara seperti AS, Tiongkok, Kanada, hingga Singapura sudah menyiapkan strategi nasional, dana riset besar, dan kolaborasi industri-universitas sejak 10 tahun lalu. Padahal teknologi ini akan berdampak langsung ke keamanan siber, enkripsi data, hingga optimasi jaringan digital nasional.
"Kalau sekarang kita masih lambat, nanti ketika komputer kuantum sudah komersial, infrastruktur digital kita bisa rentan. Enkripsi yang dipakai bank, e-commerce, data pemerintah bisa jebol. Kita harus siapkan SDM, regulasi, dan riset dari sekarang," tegas Huda.
Celios sebelumnya mencatat, penguatan ekonomi digital tidak cukup hanya dengan pemerataan akses internet. Pemerintah perlu mendorong hilirisasi digital, investasi R&D, dan insentif bagi industri berteknologi tinggi agar tidak terjebak di middle tech trap".
Dia pun mendorong pemerintah segera menyusun peta jalan teknologi kuantum nasional. Langkah itu penting agar Indonesia tidak semakin jauh tertinggal dan bisa mengejar ketertinggalan dari Malaysia serta Vietnam dalam 5-10 tahun ke depan.
"Kalau kita mau naik kelas, fokusnya harus geser. Jangan hanya urus hulu komoditas, tapi mulai masuk ke teknologi inti. Kuantum ini salah satu pintunya," pungkasnya.
Tak Boleh Terlambat
Indonesia tidak boleh terlambat mempersiapkan diri menghadapi perkembangan teknologi kuantum yang mulai menjadi arena persaingan global. Jika tidak berbenah diri dan hanya membangun secara sporadis, maka akan terkebelakang dan primitif.
Ketua Jogja Startup Foundation, Anggoro pada Kamis (25/6) teknologi kuantum berpotensi mengubah berbagai sektor strategis, mulai dari kesehatan, industri, logistik, hingga keamanan siber, sehingga negara yang lebih cepat menguasainya akan memiliki keunggulan ekonomi dan teknologi pada masa depan.
Ia menjelaskan komputer kuantum mampu menyelesaikan persoalan tertentu jauh lebih cepat dibanding komputer konvensional. Kemampuan tersebut dapat mempercepat penemuan obat baru, merancang material yang lebih canggih, mengoptimalkan jaringan logistik, meningkatkan kemampuan kecerdasan buatan, hingga memperkuat sistem pertahanan.
Di sisi lain, teknologi itu juga berpotensi mengubah standar keamanan digital karena dapat memecahkan metode enkripsi yang saat ini digunakan pada sistem perbankan, pemerintahan, dan transaksi elektronik.
Menurut Anggoro, perlombaan teknologi kuantum saat ini dipimpin oleh Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. AS mengembangkan ekosistem melalui perusahaan seperti IBM, Google, dan Microsoft, sementara Tiongkok menggelontorkan investasi besar untuk riset, membangun jaringan komunikasi kuantum, dan menyiapkan talenta sejak dini.
Beberapa negara Eropa seperti Jerman dan Belanda juga terus memperkuat kolaborasi riset agar tidak tertinggal dalam perlombaan teknologi tersebut. "Percepatan teknologi kuantum sudah berlangsung. Amerika Serikat sudah melakukannya. Pertanyaannya, bagaimana dengan Indonesia?" katanya Kamis (25/6).
Ia menilai Indonesia masih bergerak secara parsial dan belum memiliki strategi nasional yang mampu menyatukan riset, perguruan tinggi, industri, serta investasi pada bidang teknologi kuantum. Jika kondisi tersebut terus berlanjut, Indonesia dikhawatirkan hanya akan menjadi pasar bagi teknologi yang dikembangkan negara lain tanpa memiliki kemampuan menciptakan inovasi sendiri.
"Kalau kita tidak berbenah diri, membangun hanya sporadis, kita akan semakin terbelakang dan menjadi primitif dalam persaingan teknologi global," kata Anggoro.
Pemerintah katanya perlu mulai menempatkan pengembangan teknologi kuantum sebagai agenda strategis nasional melalui investasi riset, pengembangan sumber daya manusia, serta kolaborasi yang lebih kuat antara akademisi, industri, dan pemerintah agar Indonesia tidak tertinggal dalam gelombang revolusi teknologi berikutnya. YK/ers/E-9