Ekspor RI Terancam Ambruk Akibat Penutupan Selat Hormuz Picu Lonjakan Harga Minyak
JAKARTA, GENVOICE.ID - Ancaman konflik bersenjata antara Iran dan Israel bukan hanya mengguncang stabilitas kawasan Timur Tengah, tapi juga berpotensi menggerus kinerja ekspor Indonesia secara signifikan.
Dilansir dari Antara, hal ini disampaikan oleh Hasran, Peneliti dan Analis Kebijakan dari Center for Indonesian Policy Studies (CIPS).
Menurut Hasran, salah satu dampak paling nyata dari ketegangan geopolitik ini adalah penutupan Selat Hormuz oleh Pemerintah Iran - sebuah jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen dari total transaksi minyak dunia pada 2024. Akibatnya, biaya pengiriman dan logistik internasional melonjak drastis.
"Penutupan jalur ini memaksa kapal-kapal mengambil rute lain yang jauh lebih mahal dan tidak efisien. Ini berdampak langsung pada pasar energi global, terutama di China, India, Jepang, dan Korea Selatan - mitra dagang utama Indonesia," ujar Hasran.
Lonjakan harga minyak dunia yang disebabkan oleh disrupsi ini menimbulkan efek domino, dari meningkatnya biaya produksi hingga terganggunya aktivitas ekonomi negara-negara tujuan ekspor Indonesia.
Padahal, Indonesia sendiri tengah menikmati tren positif dalam neraca perdagangan. Surplus neraca perdagangan Mei 2025 mencapai USD 4,9 miliar, melonjak tajam 2.962 persen dibanding April 2025 yang hanya sebesar USD 160 juta.
Namun, Hasran mengingatkan bahwa surplus ini bisa terancam bila konflik berkepanjangan dan logistik internasional terus terganggu.
"Kenaikan harga minyak menyebabkan lonjakan biaya logistik yang akan menggerus daya saing ekspor Indonesia. Negara mitra dagang juga akan mengurangi permintaan barang karena tekanan ekonomi," jelasnya.
Lebih lanjut, Hasran menekankan pentingnya peran aktif pemerintah Indonesia dalam mendorong diplomasi perdamaian antara Iran dan Israel. Selain itu, pemerintah juga diminta segera memangkas hambatan non-tarif dalam impor pangan dan barang strategis lainnya.
"Di tengah melonjaknya biaya global, hambatan seperti kuota, izin berbelit, dan regulasi tidak relevan justru memperburuk kondisi. Penghapusan hambatan ini penting agar pasokan dalam negeri tetap terjaga," tegasnya.
Meski demikian, dampak terhadap Indonesia sangat bergantung pada durasi penutupan Selat Hormuz dan sejauh mana perang akan bereskalasi. Namun satu hal yang pasti: jika konflik tak segera reda, perekonomian global, termasuk Indonesia, pasti bisa ikut terjerumus.