Syarat Masuk Jakarta Wajib Punya Skill, Pramono Anung Tegaskan Pendatang Tanpa Keterampilan Bakal Ditertibkan Pemprov DKI

Genvoice.id | 26 Mar 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID - Kabar penting buat kamu yang punya rencana besar buat mengadu nasib atau merantau ke jantung Indonesia dalam waktu dekat ini. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta baru saja mengeluarkan pernyataan yang cukup menggetarkan terkait arus urbanisasi yang masuk ke wilayah ibu kota.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, secara gamblang memberikan peringatan keras bahwa setiap warga yang memutuskan untuk datang dan menetap di Jakarta wajib membekali diri dengan kemampuan atau keterampilan kerja yang mumpuni. Hal ini dilakukan agar para pendatang baru tidak berakhir menjadi beban bagi tata kota yang sudah sangat padat.

Jakarta memang selalu menjadi magnet bagi siapa saja yang ingin mencari peruntungan, namun di tahun 2026 ini, persaingan dunia kerja di ibu kota sudah mencapai level yang sangat tinggi. Tanpa adanya persiapan yang matang dan skill yang sesuai dengan kebutuhan industri saat ini, para perantau dikhawatirkan hanya akan menambah angka kemiskinan dan pengangguran yang sudah ada.

Oleh karena itu, Pemprov DKI ingin memastikan bahwa setiap orang yang menginjakkan kaki di tanah Betawi ini benar-benar siap untuk berkontribusi dan bertarung secara sehat di dunia profesional nih Gen.

Dalam keterangannya di Balai Kota pada Rabu (25/3), pria yang akrab disapa Mas Pram ini menegaskan bahwa Jakarta sebenarnya adalah kota yang sangat inklusif dan terbuka bagi siapa saja. Namun, keterbukaan tersebut harus dibarengi dengan tanggung jawab dari para pendatang itu sendiri. Ia tidak ingin Jakarta menjadi kota yang semrawut karena banyaknya orang yang datang tanpa rencana dan modal keahlian yang jelas.

"Jakarta tentunya juga mensyaratkan orang untuk bekerja, dan kapabilitasnya sesuai dengan apa yang menjadi kebutuhan," kata Pramono saat memberikan penjelasan kepada awak media. Ia juga menambahkan bahwa pihak pemerintah tidak akan melakukan operasi yustisi secara asal-asalan atau membabi buta.

Pintu Jakarta tetap terbuka lebar bagi mereka yang mau bekerja keras, tetapi bagi mereka yang datang dengan tangan kosong dan tidak memiliki kemampuan kerja, Pemprov DKI tidak akan segan untuk melakukan tindakan tegas berupa penertiban.

Pramono juga memberikan penekanan khusus pada poin kemandirian para pendatang. Ia meminta agar ruang yang diberikan oleh ibu kota dimanfaatkan sebaik mungkin untuk produktivitas, bukan justru menciptakan masalah sosial baru.

"Dalam hal yang seperti itu (pendatang yang tak punya kemampuan kerja), pasti akan kami berikan ruang untuk ditertibkan. Tidak bisa orang kemudian datang tanpa mempunyai kemampuan apa pun dan menjadi beban. Jadi, Jakarta terbuka bagi siapa saja, tetapi kami meminta bagi siapa pun yang datang ke Jakarta, mari membuka ruang untuk bekerja keras di Jakarta," ungkap Pramono Anung dengan nada tegas.

Senada dengan sang Gubernur, Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta, Nabilah Aboebakar Alhabsyi, juga ikut bersuara terkait fenomena urbanisasi ini. Nabilah meminta agar Pemprov DKI memperketat sistem pendataan dan pengawasan administratif bagi setiap warga baru yang masuk.

Menurutnya, sangat penting bagi calon pendatang untuk mendapatkan edukasi yang jujur mengenai realita lapangan kerja yang sulit dan biaya hidup di Jakarta yang sangat mahal. Ia sangat khawatir jika urbanisasi tanpa persiapan ini malah bakal memicu munculnya permukiman kumuh atau tidak layak huni di pinggiran kota.

"Kota ini terbuka bagi siapa pun, tetapi mari bersama menjaga agar kota ini tetap tertib dan layak bagi seluruh warganya," tutur Nabilah mengingatkan. Pesan ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa bermimpi di Jakarta itu sah-sah saja, asalkan dibarengi dengan kualitas diri yang oke agar tidak tergulung oleh kerasnya kehidupan ibu kota.