Rating Pelangi Di Mars Anjlok Drastis, Film Sci-Fi Ambisius Upi Guava Banjir Kontroversi Mulai Dari Isu Buzzer Hingga Boikot Netizen

Genvoice.id | 26 Mar 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID - Kabar kurang sedap datang dari industri layar lebar tanah air, tepatnya dari salah satu proyek film paling ambisius tahun ini yang berjudul Pelangi di Mars. Meskipun hadir dengan ekspektasi tinggi dan budget yang kabarnya paling bengkak di antara jajaran film Lebaran 2026 lainnya, karya terbaru dari sutradara Upi Guava ini justru harus menelan pil pahit. Alih-alih merajai bioskop, film yang mengusung genre fiksi ilmiah atau sci-fi ini malah terjebak dalam pusaran kontroversi yang nggak ada habisnya sejak hari pertama penayangan.

Padahal, Mahakarya Pictures sudah jor-joran mengeluarkan modal besar untuk penggunaan teknologi XR dan CGI canggih demi menampilkan visual planet Mars dan karakter robot yang terlihat nyata. Namun sayangnya, kemegahan visual tersebut tidak mampu menyelamatkan film ini dari hujatan netizen dan kritik pedas para pengamat film.

Penonton merasa ada banyak hal yang janggal, mulai dari strategi promosi yang dianggap tidak sehat hingga kualitas naskah yang dinilai punya lubang besar di sana-sini. Hal ini tentu jadi tamparan keras buat tim produksi yang awalnya berharap film ini bisa bersaing ketat dengan judul-judul besar lainnya di momen libur panjang kali ini nih Gen.

Masalah utama yang bikin film ini jadi bulan-bulanan di media sosial adalah dugaan penggunaan buzzer untuk mendongkrak popularitas secara paksa. Akun X @WillCrucioYou sempat membongkar adanya banyak akun misterius yang menyebarkan narasi seragam dengan cara merendahkan film kompetitor sambil memuji-muji Pelangi di Mars secara berlebihan.

Nggak cuma itu, keterlibatan RANS sebagai produser eksekutif juga memicu aksi boikot dari sebagian netizen yang merasa perusahaan tersebut terlalu pro pemerintah. Gabungan antara isu promosi kotor dan sentimen politik ini akhirnya bikin publik malas buat datang ke bioskop.

Berdasarkan data dari Cinepoint per Rabu (25/3/2026), jumlah penonton Pelangi di Mars baru menyentuh angka sekitar 173 ribu orang saja. Angka ini jomplang banget kalau dibandingin sama Danur: The Last Chapter yang sudah tembus 1,5 juta penonton.

Di situs IMDb, rating film ini juga cuma mentok di angka 5,8/10, menjadikannya film dengan nilai terendah di musim Lebaran 2026. Banyak reviewer yang kecewa berat karena merasa fondasi cerita sci-fi film ini sangat lemah dan tidak konsisten.

Beberapa kritikus bahkan menyoroti penggunaan AI dalam proses rendering yang dianggap bisa mengancam lapangan kerja para seniman visual. "Jadi, filmnya ternyata menggunakan CGI dan AI bersamaan untuk rendering, supaya robot dan tokoh manusia terlihat seorang menyatu.

Penggunaan CGI memang bisa membuat kualitas animasi menjadi lebih baik. Namun AI bisa berdampak buruk bagi pekerja di industri seni," tulis salah satu pengulas di IMDb. Selain masalah teknis, logika ceritanya pun kena semprot. Reviewer lain menambahkan, "Sejujurnya, aku cukup bangga karena film Indonesia ada yang menggunakan CGI canggih.

Tapi semua runtuh begitu aku selesai menonton filmnya. Ada sebuah plot hole besar. Ini film fiksi-ilmiah, jadi butuh pondasi yang kuat. Sayangnya 'Pelangi di Mars' tidak memiliki itu, mereka tidak memiliki konsistensi ilmiah yang harusnya mereka pegang kuat."

Kisah Pelangi di Mars sendiri sebenarnya cukup unik, menceritakan perjuangan anak perempuan bernama Pelangi (Keinaya Messi Gusti) yang bertahan hidup di Mars bersama tiga robot tua untuk mencari mineral pemurni air demi menyelamatkan Bumi.

Tapi sayangnya, ide keren ini nggak didukung dengan eksekusi naskah yang matang. Sementara itu, posisi puncak rating film Lebaran tahun ini justru dipegang oleh Tunggu Aku Sukses Nanti dengan skor 8,3/10.