Rugikan Eropa, Kunflik Rusia-Ukraina Untungkan AS
JAKARTA- Pakar Hubungan Internasional, Universitas Brawijaya, Malang, Aswin Ariyanto Azis, mengatakan perkembangan konflik Ukraina tersebut seharusnya menjadi wake-up call bagi Eropa, selama mereka bergantung pada AS, keamanan benua tetap berada di bawah belas kasihan politik Washington.
"Sementara AS bisa mundur kapan saja, Eropa harus hidup dengan konsekuensi perang Rusia-Ukraina setiap hari. Jika Trump benar-benar menghentikan dukungan untuk Ukraina, itu bukan hanya pergantian sikap, ini menunjukkan bahwa fondasi keamanan Barat rapuh dan mudah digoyang," kata Aswin.
Eropa selama ini berbicara tentang "kemandirian strategis", tetapi belum kelihatan mampu mewujudkannya. Kekosongan itu memberi ruang bagi Rusia untuk melangkah lebih jauh mengambil 1/5 wilayah Ukraina. "Pada akhirnya, krisis ini memperlihatkan satu hal, Eropa harus berani berdiri di kaki sendiri, atau terus hidup dalam bayang-bayang keputusan negara lain," katanya.
Aswin menambahkan, konflik Rusia-Ukraina yang dipicu oleh campur tangan AS untuk perluasan NATO ke Eropa Timur justru merugikan ekonomi Uni Eropa dan menguntungkan AS karena dapat memaksa Eropa membeli gas dari AS yang lebih mahal.
"Konflik yang diperpanjang oleh kepentingan geopolitik AS menempatkan Eropa pada posisi yang paling rugi, kehilangan energi murah, menghadapi beban sosial dan ekonomi besar, terpecah secara politik, dan tetap bergantung pada keputusan Washington yang tidak stabil," pungkasnya.
AS Tekan Ukraina
Laporan Financial Times yang mengutip seorang pejabat Eropa menyatakan kawasan tersebut bersiap menghadapi kemungkinan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menghentikan dukungan bagi Ukraina.
Sebelumnya, Washington Post melaporkan bahwa AS memberi sinyal kepada Ukraina bahwa bantuan militer mungkin akan dihentikan jika pemerintahnya tidak menandatangani rencana perdamaian yang diusulkan AS.
"Itu skenario yang jelas sedang kami siapkan," kata pejabat Eropa itu kepada Financial Times, merujuk pada kekhawatiran Eropa tentang berakhirnya bantuan AS.
Mengutip seorang sumber, The Guardian sebelumnya melaporkan bahwa AS menekan Ukraina untuk menyetujui rencana perdamaian itu disertai ancaman bahwa syarat-syarat perjanjian bisa menjadi jauh lebih buruk di masa depan.
Pekan lalu, sejumlah media AS mengutip para pejabat yang menyatakan bahwa Trump telah menyetujui rencana 28 poin untuk penyelesaian konflik Ukraina-Russia.
Rencana itu mencakup pengurangan bantuan militer AS, pengakuan resmi terhadap Gereja Ortodoks Ukraina, pemberian status resmi bagi bahasa Russia di Ukraina, pengurangan personel angkatan bersenjata Ukraina, serta pelarangan pasukan asing dan senjata jarak jauh di wilayah Ukraina.
Rencana tersebut juga mengasumsikan bahwa AS dan negara lain mengakui Krimea dan Donbas sebagai wilayah Russia yang sah.
Pada Jumat, Presiden Russia Vladimir Putin mengatakan bahwa rencana perdamaian AS bisa menjadi dasar bagi penyelesaian konflik di Ukraina.