Dari Cegukan Berkepanjangan hingga Napas Bau Pesing, Ini Gejala Gagal Ginjal yang Jarang Disadari
JAKARTA, GENVOICE.ID - Penyakit ginjal kronis kerap berkembang tanpa menunjukkan gejala yang jelas pada tahap awal. Kondisi ini membuat banyak orang tidak menyadari penurunan fungsi ginjal hingga penyakit memasuki stadium lanjut. Padahal, ada sejumlah keluhan yang perlu diwaspadai, mulai dari cegukan berkepanjangan hingga napas berbau seperti amonia atau pesing.
Dokter spesialis penyakit dalam di RSUD Dr. Soetomo dan RS Mayapada Surabaya, Decsa Medika Hertanto, menjelaskan bahwa penyakit ginjal stadium awal hingga menengah sering kali tidak menimbulkan gejala yang berarti.
"Jadi, for your information, gagal ginjal stadium 1 sampai 3 itu biasanya enggak ada gejala," ujarnya dalam video yang diunggah melalui akun Instagram @dokterdecsa, sebagaimana dikutip Kompas.com pada 20 Oktober 2026.
Menurut Decsa, gejala dapat muncul ketika fungsi ginjal mengalami penurunan berat. Pada tahap tersebut, ginjal tidak lagi mampu membuang zat sisa metabolisme dan menjaga keseimbangan cairan serta mineral dalam tubuh secara optimal.
Ginjal sendiri memiliki fungsi penting untuk menyaring darah, membuang limbah melalui urine, dan menjaga keseimbangan cairan tubuh. Ketika fungsinya terganggu, berbagai zat sisa dapat menumpuk dan memicu keluhan di sejumlah bagian tubuh.
National Kidney Foundation juga menjelaskan bahwa banyak penderita penyakit ginjal tidak merasakan gejala pada tahap awal. Karena itu, pemeriksaan darah dan urine menjadi langkah penting untuk mendeteksi gangguan ginjal sebelum kondisinya semakin berat.
4 Gejala Gagal Ginjal yang Perlu Diwaspadai
1. Cegukan berkepanjangan

Cegukan yang berlangsung terus-menerus dan sulit berhenti dapat menjadi salah satu keluhan pada penderita gangguan ginjal stadium lanjut.
Menurut Decsa, kondisi ini dapat berkaitan dengan penumpukan zat sisa metabolisme dalam darah yang memengaruhi saraf atau mekanisme pengaturan diafragma, yakni otot utama yang berperan dalam pernapasan.
Meski demikian, cegukan berkepanjangan tidak selalu menandakan penyakit ginjal. Jika keluhan berlangsung lama atau disertai gejala lain, pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.
2. Gatal pada kulit yang tak kunjung reda
:format(webp)/article/5sIBTqRWtrRCu2ehzdH8c/original/pvwnpcpujskwtxl1z3fno23k592mot5x.jpg)
Rasa gatal yang menetap meskipun telah menggunakan obat pereda gatal juga perlu diperhatikan. Pada penderita penyakit ginjal lanjut, keluhan ini dapat berkaitan dengan penumpukan zat sisa metabolisme dan gangguan keseimbangan mineral, termasuk fosfat, dalam tubuh.
Decsa menjelaskan bahwa gatal akibat kondisi tersebut bisa sulit mereda meskipun telah ditangani dengan obat gatal biasa.
Namun, kulit gatal juga dapat disebabkan oleh masalah kulit, alergi, atau kondisi kesehatan lainnya. Karena itu, keluhan yang terus berulang sebaiknya diperiksa, terutama jika seseorang memiliki faktor risiko penyakit ginjal.
3. Napas berbau seperti amonia atau pesing

Bau napas yang menyerupai amonia atau pesing merupakan salah satu gejala yang dapat muncul ketika fungsi ginjal mengalami penurunan berat.
Kondisi ini berkaitan dengan penumpukan ureum, yaitu zat sisa metabolisme protein yang biasanya dibuang melalui ginjal. Ketika ureum menumpuk dalam darah, sebagian zat tersebut dapat masuk ke air liur dan diuraikan menjadi amonia oleh bakteri di dalam mulut.
Proses tersebut dapat menimbulkan bau napas yang khas. Meski begitu, bau napas tidak sedap juga dapat dipicu oleh masalah gigi dan gusi, kebersihan mulut, atau gangguan kesehatan lainnya.
4. Mual dan kehilangan nafsu makan

Mual dan berkurangnya nafsu makan juga dapat menjadi tanda penurunan fungsi ginjal pada tahap lanjut.
Penumpukan zat sisa metabolisme dalam tubuh dapat mengganggu sistem pencernaan dan memicu rasa mual. Akibatnya, penderita dapat kehilangan selera makan atau merasa tidak nyaman ketika mengonsumsi makanan.
Keluhan tersebut sering dianggap sebagai gangguan lambung biasa. Padahal, jika mual dan kehilangan nafsu makan berlangsung terus-menerus, terutama pada orang yang memiliki faktor risiko penyakit ginjal, pemeriksaan lebih lanjut perlu dilakukan.
Kapan Perlu Memeriksakan Kesehatan Ginjal?
Munculnya empat gejala tersebut tidak otomatis berarti seseorang mengalami gagal ginjal. Cegukan, gatal, bau napas tidak sedap, dan mual dapat disebabkan oleh berbagai kondisi lain. Diagnosis tetap membutuhkan pemeriksaan oleh tenaga medis.
Meski demikian, orang dengan faktor risiko seperti tekanan darah tinggi, diabetes, penyakit jantung, obesitas, atau riwayat keluarga dengan penyakit ginjal perlu lebih memperhatikan kesehatan ginjalnya.
Decsa menyarankan orang yang mengalami gejala tersebut untuk menjalani pemeriksaan kreatinin darah dan urine. Ia juga mengingatkan penderita hipertensi dan diabetes agar memeriksakan fungsi ginjal secara berkala, setidaknya satu kali dalam setahun, atau sesuai anjuran dokter.
Pemeriksaan fungsi ginjal umumnya meliputi tes darah untuk mengukur kadar kreatinin dan memperkirakan laju filtrasi glomerulus (eGFR), serta tes urine untuk mendeteksi albumin atau protein yang dapat menjadi penanda kerusakan ginjal.
Deteksi dini penting karena penyakit ginjal kronis dapat berkembang tanpa gejala yang mudah dikenali. Dengan pemeriksaan rutin dan penanganan faktor risiko yang tepat, perkembangan penyakit dapat diperlambat dan risiko kerusakan lebih lanjut dapat dikurangi.