Clayface Tuai Pujian Kritikus, Sajikan Horor Tubuh Brutal dan Kisah Tragis Musuh Batman

Genvoice.id | 25 Oct 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID - Film "Clayface" mendapat sambutan positif dari sejumlah kritikus yang memuji perpaduan horor tubuh atau body horror, romansa gotik, dan kisah tragis karakter utamanya. Film terbaru DC ini dinilai berani menghadirkan adegan mengerikan sekaligus mengeksplorasi sisi kelam Matt Hagen, sosok yang dikenal sebagai salah satu musuh Batman.

Sejumlah kritikus dan jurnalis memberikan ulasan awal setelah mendapat kesempatan menyaksikan film tersebut sebelum penayangan resminya pada 21 Oktober 2026. Seperti dilaporkan Variety pada 14 Oktober, pujian diberikan kepada penampilan Tom Rhys Harries sebagai Matt Hagen serta pendekatan sutradara James Watkins dalam menggarap cerita horor di Gotham City.

Berbeda dari film superhero pada umumnya, "Clayface" berfokus pada perjalanan Matt Hagen, seorang aktor Hollywood yang mengalami perubahan mengerikan setelah menjalani perawatan eksperimental. Kisah asal-usul ini menjadi dasar bagi film untuk mengeksplorasi perubahan fisik dan tragedi yang dialami karakter tersebut.

Dalam komik DC, Clayface dikenal sebagai musuh Batman yang memiliki kemampuan mengubah bentuk tubuh dan wajahnya. Kemampuan tersebut menjadi salah satu elemen utama yang dieksplorasi melalui pendekatan horor dalam film ini.

Kritikus Peter Gray menilai unsur komik yang melekat pada karakter Clayface tidak mengurangi intensitas adegan brutal yang ditampilkan. Ia juga menyoroti perpaduan suasana gelap, kekerasan, dan humor dalam film tersebut.

"Clayface memiliki nuansa komik, tetapi teatrikalitasnya tidak mengurangi kebrutalannya! Gelap, penuh kekerasan, dengan sedikit kelucuan untuk mengimbangi sisi mengerikannya," tulis Peter.

Ia turut memberikan apresiasi terhadap penampilan Tom Rhys Harries yang dinilai mampu menghadirkan perpaduan pesona kekanak-kanakan dan ancaman tersembunyi. Menurutnya, film ini menjadi tambahan menarik bagi DC Universe (DCU) di bawah arahan James Gunn dan Peter Safran.

Pujian serupa disampaikan Brandon Davis, terutama terhadap cara James Watkins menggambarkan kemampuan Clayface dan membangun atmosfer Gotham City yang meresahkan. Ia menilai film ini memiliki gagasan horor yang kreatif dengan sejumlah adegan mengerikan.

"Clayface sangat keren. Watkins menghadirkan Gotham yang meresahkan dan sangat kreatif dalam mengeksplorasi kemampuan Clayface. Ada momen-momen mengerikan, gelap, dan gagasan yang menyimpang," tulis Brandon.

Brandon juga menilai Tom Rhys Harries tampil menonjol dalam memperkenalkan karakter tersebut ke layar lebar.

Sementara itu, kritikus dengan akun HeyChalice menyebut "Clayface" sebagai salah satu film horor terbaik tahun ini. Ia mengaku terkesan dengan kemampuan film tersebut dalam memadukan horor dan romansa tanpa menghilangkan sisi mengerikannya.

HeyChalice juga memuji penampilan Tom Rhys Harries dalam membawakan kisah karakter yang gelap. Ia bahkan berharap film tersebut mendapat lampu hijau untuk sekuel.

Selain aspek visual dan akting, sejumlah ulasan turut menyoroti keputusan film untuk mempertahankan Clayface sebagai sosok penjahat dengan latar belakang tragis. Pendekatan ini dinilai berbeda dari cerita yang berusaha mengubah antagonis menjadi karakter antihero.

Kritikus ConorVille08 menyebut "Clayface" berhasil menghadirkan cerita yang berpusat pada penjahat tanpa harus mengaburkan posisinya sebagai antagonis. Menurutnya, film ini juga memperlihatkan keunikan para musuh Batman melalui kisah dan latar belakang mereka.

Chris Killian turut memberikan pujian terhadap penggambaran masa lalu Matt Hagen. Ia menilai tragedi yang dialami karakter tersebut diolah menjadi sajian horor tubuh dengan adegan berdarah dan visual yang tidak biasa.

Meski demikian, film ini tidak hanya mengandalkan kekerasan untuk membangun cerita. Chris juga menyoroti unsur romansa gotik klasik yang memberikan lapisan emosional di tengah berbagai adegan mengerikan.

Media MovieZine menggambarkan "Clayface" sebagai perpaduan "Joker" dan "The Substance" dengan latar Gotham City. Film tersebut dinilai mampu menghadirkan horor tubuh yang gelap dan tragis, meskipun beberapa bagian ceritanya terasa konyol.

DCU Brief juga memuji keberanian film dalam mengeksplorasi gambaran-gambaran menjijikkan tanpa banyak menahan diri. Menariknya, mereka menilai perubahan suasana dari suram menjadi nyeleneh dan absurd justru memberikan warna tersendiri bagi film tersebut.

Beragam respons awal ini menempatkan "Clayface" sebagai salah satu proyek DC yang mencoba memperluas genre dalam semesta DCU. Dengan mengedepankan horor tubuh, romansa, dan tragedi seorang penjahat, film ini menawarkan pendekatan berbeda dari kisah superhero yang biasanya berpusat pada pertarungan antara pahlawan dan musuhnya.