7 Rekomendasi Film yang Gambarkan Kerasnya Hidup Perempuan Pekerja
JAKARTA, GENVOICE.ID - Kehidupan perempuan pekerja tidak selalu berjalan mudah karena mereka kerap berhadapan dengan tekanan ekonomi, ketimpangan sosial, hingga tuntutan keluarga yang datang bersamaan. Berbagai persoalan tersebut kemudian diangkat ke dalam film melalui kisah perempuan dari latar belakang pekerjaan dan kondisi kehidupan yang berbeda.
Film-film tersebut tidak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga menghadirkan gambaran mengenai realitas yang dihadapi perempuan kelas pekerja dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari buruh pabrik, pekerja rumah tangga, pegawai kantor, hingga perempuan muda yang berjuang memenuhi kebutuhan keluarga, semuanya memiliki persoalan yang membuat cerita terasa dekat dengan kehidupan nyata.
1. Norma Rae (1979)

Sumber: The New Yorker
Norma Rae merupakan drama realisme sosial yang disutradarai Martin Ritt dan dirilis pada 1979. Film yang dibintangi Sally Field sebagai Norma Rae Webster ini mengambil latar kota kecil di Carolina Utara dan mengangkat kehidupan buruh perempuan di industri tekstil.
Norma Rae merupakan seorang ibu tunggal yang bekerja di pabrik dengan kondisi kerja yang berat dan hak pekerja yang terbatas. Kehadiran seorang organisator serikat buruh kemudian membuatnya mulai berani mengajak rekan-rekan kerjanya bersatu memperjuangkan hak mereka.
Perjuangan Norma Rae memperlihatkan bagaimana seorang perempuan biasa dapat mengambil posisi penting ketika menghadapi ketidakadilan di tempat kerja. Film ini juga menggambarkan risiko yang harus dihadapi pekerja ketika berusaha memperjuangkan kondisi kerja yang lebih layak.
2. Rosetta (1999)

Sumber: Kineruku
Film Rosetta karya Jean-Pierre Dardenne dan Luc Dardenne membawa penonton mengikuti kehidupan seorang remaja perempuan dari keluarga kelas bawah di Belgia. Rosetta hidup bersama ibunya yang mengalami kecanduan alkohol dan berusaha mendapatkan pekerjaan agar dapat menjalani kehidupan yang lebih stabil.
Keinginan mendapatkan pekerjaan formal membuat Rosetta harus menghadapi persaingan keras dengan pekerja lain. Kondisi ekonomi yang sulit membuat pekerjaan bukan sekadar sumber penghasilan, tetapi menjadi sesuatu yang menentukan kesempatan dirinya untuk bertahan hidup.
Gaya pengambilan gambar yang terasa dekat dengan karakter semakin memperkuat kesan realistis dalam film tersebut. Perjuangan Rosetta menggambarkan bagaimana kemiskinan dan ketidakpastian pekerjaan dapat membuat seseorang berada dalam situasi penuh tekanan.
3. The Second Mother (2015)

Sumber: The Guardian
The Second Mother atau Que Horas Ela Volta? merupakan film Brasil garapan Anna Muylaert yang dirilis pada 2015. Ceritanya berpusat pada Val, seorang pekerja rumah tangga yang telah bertahun-tahun tinggal di rumah majikannya demi mendapatkan penghasilan untuk membiayai kehidupan anaknya.
Kehidupan Val mulai berubah ketika putrinya, Jéssica, datang ke São Paulo untuk mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. Sikap Jéssica yang tidak mau mengikuti aturan tidak tertulis di rumah tersebut kemudian membuka berbagai persoalan mengenai perbedaan kelas sosial.
Film ini memperlihatkan bagaimana pekerja domestik perempuan sering ditempatkan dalam posisi yang ambigu antara dianggap sebagai bagian dari keluarga dan tetap diperlakukan sebagai pekerja. Hubungan tersebut menjadi pintu masuk untuk membahas ketimpangan kelas serta batas antara kasih sayang dan eksploitasi tenaga kerja.
4. Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak (2017)

Sumber: Istimewa
Film Indonesia Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak karya Mouly Surya menghadirkan kisah seorang perempuan yang hidup seorang diri di wilayah Sumba. Marlina merupakan janda yang berada dalam kondisi ekonomi terbatas dan harus menghadapi ancaman dari sekelompok perampok.
Ketika rumahnya didatangi sekelompok pria yang mengancam keselamatan serta hartanya, Marlina memilih melawan. Perjalanannya setelah kejadian tersebut memperlihatkan bagaimana seorang perempuan harus bertahan ketika perlindungan terhadap dirinya terasa sangat terbatas.
Dengan perpaduan drama, satire, dan nuansa western, film ini tidak hanya bercerita tentang keberanian seorang perempuan. Kisah Marlina juga berkaitan dengan persoalan kekerasan, ketidakadilan, serta posisi perempuan yang berada dalam kondisi rentan secara ekonomi dan sosial.
5. The Assistant (2019)
Sumber: Showpoiler
The Assistant garapan Kitty Green mengambil latar lingkungan kantor produksi hiburan di New York. Film ini mengikuti Jane, seorang pegawai junior yang menjalani rutinitas pekerjaan administratif sekaligus mulai menyadari adanya persoalan serius di lingkungan kerjanya.
Jane harus mengerjakan berbagai tugas yang tampak sederhana, tetapi perlahan menemukan indikasi adanya perilaku tidak pantas dari atasannya. Situasi tersebut membuatnya berada dalam posisi sulit karena struktur kekuasaan di kantor membuat pekerja junior tidak memiliki banyak ruang untuk bertindak.
Berbeda dari film dengan konflik yang eksplosif, The Assistant menggunakan suasana sunyi dan rutinitas pekerjaan untuk membangun ketegangan. Ceritanya memperlihatkan bagaimana lingkungan kerja yang tidak sehat dapat bertahan ketika tindakan bermasalah dianggap sebagai sesuatu yang harus diterima pekerja.
6. Samjin Company English Class (2020)

Sumber: Istimewa
Samjin Company English Class membawa cerita ke Seoul pada 1995 dan mengikuti tiga pekerja perempuan lulusan SMA. Ketiganya bekerja sebagai pegawai level bawah yang lebih sering mendapatkan tugas pendukung meskipun memiliki kemampuan untuk berkembang.
Kesempatan mengikuti kelas bahasa Inggris di perusahaan awalnya menjadi harapan bagi mereka untuk mendapatkan promosi. Namun, mereka justru menemukan indikasi adanya praktik perusahaan yang berkaitan dengan pembuangan limbah beracun.
Ketiganya kemudian bekerja sama untuk mengungkap persoalan tersebut meski posisi mereka di perusahaan tidak kuat. Film ini memadukan unsur komedi dan drama untuk menggambarkan persahabatan, perjuangan mendapatkan kesempatan yang setara, serta keberanian pekerja menghadapi kekuasaan korporasi.
7. Home Sweet Loan (2024)

Sumber: IMDb
Home Sweet Loan menjadi salah satu film Indonesia yang menggambarkan persoalan pekerja muda di tengah tekanan kehidupan perkotaan. Film garapan Sabrina Rochelle Kalangie ini mengikuti Kaluna, perempuan pekerja kantoran yang memiliki impian sederhana untuk membeli rumah sendiri.
Keinginan tersebut ternyata tidak mudah diwujudkan karena Kaluna juga harus berhadapan dengan kebutuhan finansial keluarga besarnya. Kondisi tersebut membuat penghasilan yang seharusnya digunakan untuk membangun masa depan pribadi harus terus terbagi dengan berbagai kebutuhan keluarga.
Kisah Kaluna memperlihatkan realitas sandwich generation yang membuat seseorang harus memenuhi kebutuhan dirinya sekaligus membantu keluarga. Tekanan ekonomi, pekerjaan, dan tanggung jawab keluarga akhirnya menjadi beban yang memengaruhi kehidupan pribadi serta kondisi mental pekerja muda.
Perempuan Pekerja dan Realitas Kehidupan
Ketujuh film tersebut menghadirkan karakter perempuan dengan persoalan yang berbeda, tetapi memiliki benang merah berupa perjuangan menghadapi kondisi hidup yang tidak selalu berpihak. Ada yang memperjuangkan hak buruh, mencari pekerjaan demi bertahan hidup, menghadapi ketimpangan kelas, hingga berusaha memenuhi kebutuhan keluarga sambil mengejar impian pribadi.
Kisah-kisah tersebut menunjukkan bahwa perjuangan perempuan pekerja tidak hanya berkaitan dengan pekerjaan di tempat kerja. Tanggung jawab keluarga, kondisi ekonomi, diskriminasi, ketidaksetaraan kesempatan, serta lingkungan kerja yang tidak sehat juga menjadi bagian dari tantangan yang harus mereka hadapi.
Melalui cerita yang dekat dengan realitas sosial, film-film tersebut mengajak penonton melihat kehidupan pekerja perempuan dari perspektif yang lebih luas. Ketangguhan para karakternya juga menjadi pengingat bahwa di balik rutinitas pekerjaan sehari-hari terdapat perjuangan panjang yang sering kali tidak terlihat.