Zelenskyy Tegaskan Ukraina Butuh Dukungan AS untuk Akhiri Perang dengan Rusia
JAKARTA, GENVOICE.ID - Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, menegaskan bahwa negaranya masih membutuhkan keterlibatan Amerika Serikat dalam upaya mengakhiri perang dengan Rusia. Hal itu disampaikan setelah pertemuan dengan para sekutu Barat di London yang dihadiri lebih dari 20 pemimpin Eropa dari koalisi "coalition of the willing" tanpa kehadiran Donald Trump.
Dalam pertemuan tersebut, Zelenskyy memilih untuk tidak secara langsung melobi pengiriman rudal jelajah Tomahawk dari AS. Sebaliknya, ia menekankan pentingnya kerja sama yang solid di antara negara-negara Barat. "Kami tidak mencari cara untuk menghentikan Putin tanpa Amerika Serikat," ujarnya, menegaskan bahwa Washington tetap menjadi elemen penting dalam strategi Ukraina.
Zelenskyy juga menyoroti pentingnya jaminan keamanan bagi negaranya setelah perang berakhir. "Kami butuh Amerika Serikat untuk itu," katanya. Ia memperingatkan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin sedang berupaya memecah belah sekutu Barat.
Sementara itu, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengatakan bahwa masih ada ruang untuk memperkuat kemampuan pertahanan Ukraina, terutama dalam hal senjata jarak jauh. Inggris mendorong sekutunya untuk meningkatkan dukungan militer agar Ukraina dapat menyerang target strategis Rusia jauh di belakang garis depan.
Pekan ini, Ukraina dilaporkan menggunakan rudal Storm Shadow buatan Inggris untuk menyerang pabrik bahan peledak dan bahan bakar roket di Bryansk, Rusia. Namun, AS sejauh ini masih menolak memberikan rudal Tomahawk, keputusan yang juga memicu kekhawatiran di Moskow.
Zelenskyy menuduh Rusia berusaha menciptakan "bencana kemanusiaan" selama musim dingin dengan menargetkan infrastruktur energi Ukraina. "Kami berterima kasih karena tidak sendirian sejak awal perang, dan sekarang dukungan kalian lebih penting dari sebelumnya," ujarnya.
Sebelum menghadiri pertemuan di London, Zelenskyy sempat bertemu Raja Charles di Windsor dan kemudian mengadakan pertemuan bilateral dengan Starmer di Downing Street. Sejumlah pemimpin lain yang hadir secara langsung antara lain Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte, Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen, dan Perdana Menteri Belanda Dick Schoof.
Pertemuan tersebut berlangsung di tengah meningkatnya serangan Rusia terhadap infrastruktur Ukraina. Listrik dan air sempat padam di Kyiv dan Chernihiv setelah rentetan serangan udara pekan ini. Dua anak dilaporkan termasuk di antara tujuh korban tewas ketika sebuah taman kanak-kanak di Kharkiv menjadi sasaran serangan bom Rusia.
Sementara itu, AS mulai menunjukkan perubahan sikap terhadap Moskow. Presiden Trump membatalkan rencana pertemuan dengan Putin di Budapest dan menjatuhkan sanksi terhadap dua raksasa minyak Rusia, Rosneft dan Lukoil. Namun, ia tetap menolak permintaan Zelenskyy untuk pengiriman rudal Tomahawk, meski menyerukan gencatan senjata di sepanjang garis depan saat ini.
Di sisi lain, Uni Eropa masih belum mengambil keputusan final terkait penggunaan aset Rusia yang dibekukan, senilai €140 miliar, untuk mendanai pertahanan Ukraina. Zelenskyy mendesak agar keputusan itu segera diambil, menegaskan bahwa Rusia harus menanggung biaya perang yang telah dilancarkannya.