Tidak untuk Dicontoh! Remaja 17 Tahun Meninggal Akibat Diet Ekstrem Cuma Minum Jus Buah

Genvoice.id | 25 Oct 2025

JAKARTA, GENVOICE.ID - Dunia kesehatan kembali digemparkan oleh tragedi diet ekstrem yang memakan korban jiwa. Seorang remaja 17 tahun di India dilaporkan meninggal dunia setelah selama tiga bulan hanya mengonsumsi jus buah demi menurunkan berat badan.

Keluarga Saktheeswaran di distrik Kanyakumari, Tamil Nadu, mengaitkan kematian tragis ini dengan kebiasaan dietnya yang sangat berbahaya.

Saktheeswaran dikenal sebagai sosok yang aktif dan sehat. Namun, ia terobsesi dengan berat badannya dan bertekad menurunkannya sebelum masuk perguruan tinggi. Sayangnya, inisiatif dietnya bukan datang dari ahli, melainkan terinspirasi dari video di YouTube.

Keluarga korban mengungkapkan kepada polisi bahwa Saktheeswaran tidak pernah berkonsultasi dengan ahli gizi atau dokter.

Ia hanya mengandalkan program diet online yang memintanya sepenuhnya menghindari makanan padat dan hanya mengonsumsi jus buah. Selain itu, ia juga rutin berolahraga dan mengonsumsi obat-obatan tertentu.

Tragedi Setelah Berbulan-bulan Tanpa Makanan Padat

Selama tiga bulan terakhir, orang-orang di sekelilingnya melihat Saktheeswaran memang terlihat lebih kurus. Namun, pada Kamis (24/7/2025), tragedi pun terjadi.

Saat keluarganya mengadakan ritual pooja, Saktheeswaran mengonsumsi makanan padat untuk pertama kalinya.

Diduga karena asupan makanan padat yang sudah lama absen, ia langsung mulai muntah, mengeluh sesak napas, dan pingsan di rumah. Tak lama, ia dinyatakan meninggal dunia.

Para tetangga mengenal Saktheeswaran sebagai sosok yang peduli terhadap tubuhnya, bahkan sampai menghindari olahraga di sekolah karena rasa khawatir berlebihan soal berat badannya.

Meskipun penyebab pasti kematiannya masih menunggu laporan autopsi, dugaan sementara adalah mati lemas. Dokter akan menganalisis apakah diet ekstrem yang dijalaninya berperan besar dalam kematian remaja tersebut.

Gen, kasus ini adalah pengingat keras bahwa obsesi pada berat badan, apalagi didasari tren online tanpa konsultasi ahli, bisa berakibat fatal. Kesehatan mental dan fisik harus jadi prioritas utama, bukan sekadar angka di timbangan!