Kemarau Sulsel Belum Berakhir, BMKG Prediksi Peralihan Musim Bisa Mundur

Genvoice.id | 25 Aug 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID - Sebagian besar wilayah Sulawesi Selatan masih berada dalam periode puncak musim kemarau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar menyebut kondisi tersebut belum menunjukkan tanda-tanda akan segera beralih menuju musim hujan.

Prakirawan BMKG Wilayah IV Makassar, Agus, mengatakan cuaca di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan saat ini masih didominasi kondisi cerah hingga cerah berawan. Dampak musim kemarau juga mulai dirasakan masyarakat di beberapa daerah.

"Untuk saat ini memang kita belum ada tanda-tanda peralihan musim. Jadi sekarang memang masih puncak-puncaknya musim kemarau, di sebagian besar wilayah Sulawesi Selatan," ujar Agus kepada IDN Times, Senin (24/8/2026).

Kondisi tersebut membuat masyarakat Sulawesi Selatan masih perlu bersiap menghadapi cuaca kering dalam beberapa waktu ke depan. Terlebih, BMKG melihat adanya indikasi masa peralihan musim tahun ini berlangsung lebih lambat dibandingkan kondisi normal.

Peralihan Musim Berpotensi Mundur

Secara umum, masa peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan di Sulawesi Selatan mulai terjadi sekitar Oktober. Namun, kondisi atmosfer dan iklim tahun ini membuat waktu tersebut berpotensi mengalami perubahan.

Agus mengatakan tanda-tanda peralihan musim belum terlihat secara signifikan hingga saat ini. Karena itu, awal musim hujan tahun ini diperkirakan dapat mundur dari periode normalnya.

"Kalau melihat kondisi saat ini bisa mundur. Mundur dari normalnya," kata Agus.

Meski demikian, BMKG belum menetapkan secara resmi kapan musim hujan akan dimulai di wilayah Sulawesi Selatan. Informasi tersebut masih dibahas dalam koordinasi internal dan rapat musim sebelum nantinya diumumkan kepada masyarakat.

"Baru hari ini tadi disampaikan untuk rapat musimnya, tapi belum final untuk informasinya disampaikan secara umum. Jadi masih tahap koordinasi. Nanti akan di-update jika ada informasinya untuk musim hujannya," ujarnya.

Kemarau Tahun Ini Dipengaruhi El Nino

Lebih panjangnya musim kemarau di Sulawesi Selatan tidak terlepas dari sejumlah faktor iklim. Salah satunya adalah kondisi suhu muka laut di bagian timur Samudra Pasifik yang berada di atas kondisi normal.

Kondisi tersebut berkaitan dengan fenomena El Nino yang dapat memengaruhi pola cuaca di Indonesia. Kombinasi antara musim kemarau dan pengaruh El Nino membuat sejumlah wilayah berpotensi mengalami kondisi yang lebih kering.

"Karena kondisi suhu muka laut khususnya di sebelah timur Pasifik cukup tinggi dari normalnya, sehingga menyebabkan kemarau tahun ini lebih panjang. Ditambah musim kemarau, ditambah El Nino, jadi makin kering," jelas Agus.

Kondisi kering yang berlangsung lebih lama membuat masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap sejumlah dampak yang dapat muncul, terutama ketika curah hujan masih rendah.

Risiko Kekurangan Air hingga Kebakaran Meningkat

Salah satu dampak yang perlu diantisipasi adalah berkurangnya ketersediaan air. Kemarau berkepanjangan dapat menyebabkan pasokan air menurun sehingga berpotensi mengganggu kebutuhan masyarakat.

Selain persoalan air, kondisi lingkungan yang kering juga dapat meningkatkan risiko kebakaran. Masyarakat diminta lebih berhati-hati dalam melakukan aktivitas yang berpotensi menimbulkan api.

"Kalau musim kemarau berkepanjangan itu suplai air sudah berkurang dan sangat rentan terhadap hal-hal, baik dari kesehatan ataupun yang bisa menyebabkan kerugian material seperti kebakaran dan lain-lain," ujar Agus.

Dari sisi kesehatan, masyarakat juga perlu mewaspadai gangguan pernapasan seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Udara yang lebih kering dan meningkatnya paparan debu dapat memperbesar risiko gangguan tersebut.

BMKG juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran sampah secara sembarangan. Aktivitas yang melibatkan api perlu dilakukan dengan sangat hati-hati untuk mencegah munculnya kebakaran, terutama ketika kondisi lingkungan masih kering.

"Kalau untuk kesehatan mungkin biasa lebih rentan ISPA karena debu. Kalau untuk pemicu-pemicu kebakaran, tidak boleh bakar sampah sembarangan atau segala macam yang berkaitan seperti itu," kata Agus.

Dengan musim kemarau yang masih berlangsung dan potensi peralihan musim yang mundur, masyarakat Sulawesi Selatan perlu tetap mengikuti informasi cuaca dan perkembangan musim dari BMKG. Kewaspadaan terhadap ketersediaan air, kesehatan, serta potensi kebakaran menjadi penting selama kondisi kering masih bertahan.