10 Negara Termiskin di Dunia Tahun 2026, Apakah Indonesia Masuk Daftar?

Genvoice.id | 25 Aug 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID - Meskipun bumi kaya akan sumber daya alam, ketimpangan ekonomi global masih menempatkan jutaan jiwa dalam jerat kemiskinan ekstrem. Berdasarkan data Paritas Daya Beli (PPP) dari IMF dan Global Finance per Agustus 2026, jurang kesenjangan antara negara kaya dan miskin kian melebar.

Rata-rata daya beli per kapita di negara terkaya melampaui US$ 121.000, sementara di negara-negara termiskin hanya menyentuh US$ 1.700. Kombinasi konflik bersenjata, krisis utang, lonjakan inflasi, jejak kolonialisme, hingga perubahan iklim ekstrem menjadi pemicu utama berulangnya siklus kemiskinan di wilayah-wilayah yang rentan ini.

Daftar 10 Negara Termiskin di Dunia

1. Burundi

Negara tanpa akses laut ini memegang predikat sebagai yang termiskin di dunia. Sekitar 80% dari 14 juta penduduknya bergantung pada pertanian subsisten dengan tingkat ketahanan pangan yang sangat rendah.

Dampak perang saudara masa lalu, ketiadaan sumber daya alam utama, serta terbatasnya fasilitas air bersih dan listrik memperparah krisis ekonomi, meski pertumbuhan ekonomi diproyeksikan mulai berangsur pulih.

2. Republik Afrika Tengah

Meski memiliki kekayaan tambang seperti emas, uranium, dan berlian, hasilnya hanya dinikmati segelintir elite. Instabilitas politik dan konflik militer yang berkepanjangan membuat sebagian besar wilayahnya tidak stabil. Pertumbuhan ekonomi tahun 2026 yang diperkirakan berada di angka 2,6% masih belum cukup untuk mengangkat mayoritas populasinya keluar dari garis kemiskinan.

3. Sudan Selatan

Terjebak dalam "kutukan sumber daya", 90% pendapatan Sudan Selatan bergantung pada minyak bumi yang justru memicu korupsi dan perang saudara sejak kemerdekaannya pada 2011. Gangguan pada pipa ekspor minyak serta perpecahan internal menyebabkan hampir 90% dari 15 juta penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan ekstrem.

4. Yaman

Krisis kemanusiaan parah melanda Yaman akibat perang saudara yang berkecamuk sejak 2014 antara pemerintah dan kelompok Houthi. Ketegangan politik dan aksi blokade di perairan Selat Bab el-Mandeb melumpuhkan ekspor minyak nasional, memutus pendapatan negara, serta menghancurkan fasilitas infrastruktur penting.

5. Mozambik

Meskipun sempat mencatatkan pertumbuhan PDB tinggi berkat cadangan gas alamnya, Mozambik terus tertekan oleh serangan pemberontak di kawasan utara dan konflik pascapemilu 2024. Kontraksi ekonomi yang sempat terjadi mengonfirmasi betapa rapuhnya pemulihan ekonomi di negara ini.

6. Malawi

Ketergantungan pada sektor pertanian yang mengandalkan curah hujan membuat ekonomi Malawi amat rentan terhadap perubahan iklim dan cuaca ekstrem. Beban utang publik yang tinggi (mencapai 91% dari PDB) serta lonjakan inflasi menjadi tantangan berat bagi pemerintah dalam menciptakan lapangan kerja dan stabilitas pangan.

7. Somalia

Di tengah ancaman kekeringan, krisis pangan, dan bencana alam, Somalia sebenarnya telah berupaya melakukan reformasi struktur ekonomi. Namun, aksi terorisme dan serangan dari kelompok radikal Al-Shabaab terus merusak infrastruktur, memicu aksi kekerasan di Mogadishu, dan menyebabkan jutaan warga membutuhkan bantuan kemanusiaan.

8. Liberia

Pasca-transisi kepemimpinan politik pada 2023, perekonomian Liberia mulai menunjukkan tren positif melalui pertumbuhan sektor pertambangan dan ekspor pertanian. Meski diproyeksikan tumbuh di atas 5% pada tahun 2026, Liberia masih berjuang mengatasi dampak inflasi masa lalu dan keterbatasan lapangan kerja.

9. Madagaskar

Gejolak politik dan dinamika kepemimpinan militer terus membayangi Madagaskar. Selain masalah ketidakstabilan politik, posisi geografi Madagaskar membuatnya sangat rawan terhadap bencana alam seperti badai siklon, banjir, dan kekeringan yang merusak sektor pertanian serta infrastruktur vital.

10. Republik Demokratik Kongo

Kongo merupakan produsen kobalt terbesar di dunia dan salah satu penghasil tembaga terbesar di Afrika. Walaupun menyimpan potensi ekonomi melimpah untuk industri kendaraan listrik, maraknya korupsi, buruknya infrastruktur, dan konflik bersenjata di wilayah timur menahan Kongo dari pemanfaatan kekayaan alamnya secara optimal.

Kondisi sepuluh negara termiskin di dunia ini memperlihatkan bahwa kekayaan sumber daya alam saja tidak cukup tanpa didukung oleh stabilitas politik, tata kelola pemerintahan yang bersih, serta infrastruktur yang memadai.

Ke depannya, ancaman perubahan iklim dan berkembangnya ketimpangan akses teknologi, seperti kecerdasan buatan (AI), berpotensi makin memperlebar jurang ekonomi global jika tidak ada intervensi dan bantuan internasional yang tepat sasaran.