Bentrok di Perbatasan Thailand-Kamboja Memanas, Sudah Memasuki Hari Kedua

Genvoice.id | 25 Jul 2025

JAKARTA, GENVOICE.ID - Ketegangan antara Thailand dan Kamboja kembali pecah menjadi bentrokan bersenjata di sepanjang wilayah perbatasan yang masih dipersengketakan. Pada Jumat pagi, pertempuran memasuki hari kedua dengan tembakan senjata ringan hingga peluncur roket yang dilaporkan terjadi di beberapa titik di wilayah timur laut Thailand.

Menurut Kolonel Richa Sooksuwanon, juru bicara militer Thailand, konflik kembali pecah sejak pukul 04.30 waktu setempat setelah pasukan Kamboja diduga lebih dulu menembakkan senjata berat. Pihak Thailand kemudian membalas dengan artileri.

Komando militer Thailand di wilayah perbatasan juga memperingatkan masyarakat lewat unggahan di Facebook untuk menjauhi area rawan, termasuk di Provinsi Ubon Ratchathani dan Surin. Mereka mengumumkan operasi penjinakan bom dan evakuasi korban yang terkena serangan roket Kamboja pada Kamis lalu.

Menurut data dari Kementerian Kesehatan Thailand, setidaknya 14 orang meninggal dunia, sebagian besar dari mereka adalah warga sipil. Sementara itu, di pihak Kamboja, satu orang dilaporkan tewas dan lima lainnya mengalami luka-luka. Ribuan warga juga telah mengungsi dari wilayah Oddar Meanchey yang berbatasan langsung dengan Thailand.

Bentrok terbaru ini merupakan kelanjutan dari ketegangan yang sudah berlangsung sejak Mei, saat seorang tentara Kamboja tewas dalam insiden penembakan di wilayah Segitiga Zamrud-area perbatasan strategis yang mempertemukan Thailand, Kamboja, dan Laos. Konflik memanas kembali minggu ini setelah lima tentara Thailand menjadi korban ledakan ranjau.

Pada Kamis lalu, situasi kian memburuk saat Thailand mengerahkan jet tempur F-16 untuk menyerang target-target militer di wilayah Kamboja. Langkah ini memicu kekhawatiran internasional akan eskalasi konflik di kawasan Asia Tenggara.

Meski berbagi perbatasan sepanjang 800 kilometer yang sebagian besar dipetakan pada masa penjajahan Prancis, hubungan kedua negara kerap diwarnai persaingan militer. Thailand diketahui memiliki kekuatan militer yang jauh lebih besar, dengan personel aktif tiga kali lipat dibandingkan Kamboja. Sebagai sekutu utama non-NATO bagi Amerika Serikat, Thailand juga mendapat dukungan militer dan teknologi persenjataan dari Washington selama puluhan tahun.

Sejumlah negara seperti Jepang dan AS telah menyerukan kedua pihak untuk menahan diri dan segera melakukan de-eskalasi guna mencegah jatuhnya korban lebih banyak.

Situasi hingga Jumat pagi masih belum stabil. Bentrokan di lapangan dilaporkan terus berlangsung, dan ribuan warga dari kedua sisi perbatasan kini hidup dalam pengungsian di tengah ancaman konflik yang belum mereda.