Puasa Ayyamul Bidh: Jadwal, Niat, dan Keistimewaan yang Jarang Diketahui
JAKARTA, GENVOICE.ID - Selain puasa sunnah Senin-Kamis, umat Islam juga dianjurkan menjalankan puasa Ayyamul Bidh yang dilakukan setiap pertengahan bulan dalam kalender Hijriah. Ibadah sunnah ini dikenal memiliki banyak keutamaan dan menjadi salah satu amalan yang rutin dianjurkan Rasulullah SAW.
Puasa Ayyamul Bidh dilaksanakan pada tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan Hijriah. Namun, pelaksanaannya tidak dilakukan saat bertepatan dengan Hari Tasyrik yang memang dilarang untuk berpuasa.
Apa Itu Puasa Ayyamul Bidh?
Ayyamul Bidh secara harfiah berarti "hari-hari putih". Sebutan ini merujuk pada kondisi malam di pertengahan bulan Hijriah ketika bulan purnama bersinar terang dan menerangi langit malam.
Karena itu, puasa yang dikerjakan pada tanggal 13, 14, dan 15 bulan Hijriah disebut sebagai Puasa Ayyamul Bidh. Ibadah ini termasuk puasa sunnah yang dapat dilakukan sepanjang tahun oleh umat Islam.
Niat Puasa Ayyamul Bidh
Sebelum menjalankan puasa Ayyamul Bidh, umat Islam dianjurkan membaca niat sebagai bentuk kesungguhan dalam beribadah.
"Nawaitu shouma ghadin ayyamal bidhi sunnatan lillahi ta'ala."
Artinya: "Saya niat berpuasa besok pada hari-hari putih (Ayyamul Bidh) sebagai puasa sunnah karena Allah Ta'ala."
Keutamaan Puasa Ayyamul Bidh
1. Pahalanya Seperti Puasa Sepanjang Tahun
Salah satu keutamaan terbesar Puasa Ayyamul Bidh adalah pahala yang sangat besar. Dalam berbagai hadis disebutkan bahwa berpuasa tiga hari setiap bulan dapat bernilai seperti berpuasa sepanjang tahun.
Hal itu karena setiap amal kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali. Jika seseorang berpuasa tiga hari dalam sebulan, maka nilainya setara dengan 30 hari amal kebaikan. Ketika dilakukan secara rutin selama setahun, pahalanya seperti berpuasa selama satu tahun penuh.
2. Menjadi Pengingat Kebesaran Allah SWT
Penamaan "hari-hari putih" berkaitan dengan fenomena bulan purnama yang membuat malam tampak lebih terang. Kondisi alam tersebut menjadi pengingat akan kebesaran dan kekuasaan Allah SWT dalam mengatur alam semesta.
Karena itu, puasa ini tidak berkaitan dengan jenis makanan tertentu, melainkan merujuk pada waktu pelaksanaannya yang bertepatan dengan fase bulan purnama.
3. Menghidupkan Sunnah Rasulullah SAW
Menjalankan Puasa Ayyamul Bidh juga berarti menghidupkan salah satu sunnah Nabi Muhammad SAW. Dalam hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW memberikan tiga wasiat yang selalu beliau jaga sepanjang hidupnya.
Rasulullah SAW bersabda bahwa beliau berwasiat untuk berpuasa tiga hari setiap bulan, mengerjakan salat Dhuha, dan menunaikan salat Witir sebelum tidur.
Dengan menjalankan puasa ini secara rutin, umat Islam tidak hanya memperoleh pahala sunnah, tetapi juga mengikuti amalan yang dianjurkan langsung oleh Rasulullah SAW.
Itulah pengertian Puasa Ayyamul Bidh, bacaan niat, serta berbagai keutamaannya. Ibadah sunnah ini dapat menjadi salah satu amalan yang dilakukan secara rutin untuk menambah pahala dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.