Virus Shamonda Terdeteksi pada Manusia di Perancis, Ini Fakta Penularan dan Gejalanya

Genvoice.id | 24 Oct 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID - Virus Shamonda menjadi perhatian otoritas kesehatan setelah kasus infeksi yang diduga melibatkan manusia dilaporkan di Perancis pada Oktober 2026. Pasien yang menjalani perawatan akibat penyakit serius tersebut meninggal pada awal Oktober, sementara penyelidikan masih berlangsung untuk memastikan keterkaitan kematian dengan virus tersebut.

Mengutip European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC), Jumat (23/10/2026), laporan ini menjadi perhatian karena virus Shamonda sebelumnya dikenal sebagai virus yang menginfeksi hewan, terutama sapi. Hingga kini, informasi mengenai dampak infeksi tersebut terhadap manusia masih terbatas sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui tingkat risiko dan karakteristik penyakitnya.

Mengenal Virus Shamonda

Virus Shamonda atau Shamonda virus (SHAV) merupakan virus dari genus Orthobunyavirus, kelompok virus yang sebagian anggotanya ditularkan melalui serangga. Virus ini sebelumnya ditemukan pada hewan ternak di sejumlah negara Eropa, termasuk Austria, Belgia, Perancis, Jerman, Irlandia, Italia, dan Liechtenstein.

Selain sapi, virus Shamonda juga dapat menginfeksi hewan ternak lain, seperti domba dan kambing. Pada hewan, infeksi dapat menimbulkan sejumlah gejala, di antaranya demam, diare, serta penurunan produksi susu pada sapi perah.

Laporan kasus pada manusia di Perancis menjadi perhatian karena infeksi virus ini sebelumnya belum pernah dilaporkan pada manusia. Meski demikian, temuan tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa virus Shamonda telah menimbulkan ancaman kesehatan yang luas bagi masyarakat.

Penularan Melalui Gigitan Serangga

Virus Shamonda umumnya menyebar melalui gigitan serangga kecil pengisap darah dari genus Culicoides. Serangga yang dikenal sebagai biting midges ini berukuran sekitar satu hingga tiga milimeter sehingga sulit terlihat dengan mata telanjang.

Serangga tersebut dapat membawa virus dan menularkannya ketika menggigit inang. Namun, mekanisme penularan pada kasus manusia di Perancis masih diselidiki, termasuk kemungkinan keterkaitannya dengan gigitan serangga pembawa virus.

Hingga laporan tersebut diterbitkan, belum ada bukti yang menunjukkan bahwa virus Shamonda menyebar secara berkelanjutan antarmanusia. Karena itu, masyarakat tidak seharusnya langsung menganggap kontak sehari-hari dengan orang lain sebagai jalur penularan virus ini.

Gejala pada Manusia Belum Diketahui secara Pasti

Gejala infeksi virus Shamonda pada manusia belum dapat dipastikan karena informasi kasus yang tersedia masih sangat terbatas. Dalam kasus di Perancis, pasien dilaporkan mengalami komplikasi pada otak sebelum meninggal, tetapi hubungan antara kondisi tersebut dan infeksi virus masih memerlukan kajian lebih lanjut.

Pasien tersebut juga dilaporkan mengalami gangguan sistem kekebalan tubuh yang berat sehingga lebih rentan terhadap infeksi dan komplikasinya. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam menilai kasus tersebut, sebab temuan pada satu pasien tidak serta-merta menggambarkan dampak virus pada seluruh populasi.

Apakah Virus Shamonda Berbahaya?

Ben Brennan, pemimpin kelompok riset sekaligus dosen senior di MRC-University of Glasgow Centre for Virus Research, menilai temuan virus Shamonda pada manusia penting dari sisi ilmiah. Namun, ia mengingatkan bahwa keberadaan virus pada pasien dengan kondisi kesehatan tertentu tidak otomatis menunjukkan risiko yang sama bagi orang sehat.

"Menemukan virus pada pasien dengan gangguan kekebalan tubuh yang berat tidak serta-merta berarti virus tersebut menimbulkan risiko signifikan bagi orang yang sehat," ujarnya.

Brennan juga menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada bukti bahwa virus Shamonda menyebabkan penyakit pada manusia secara luas. Sementara itu, ECDC bekerja sama dengan otoritas kesehatan Perancis dan mitra di Eropa untuk menyelidiki dampak kasus tersebut terhadap kesehatan masyarakat.

Dengan terbatasnya data yang tersedia, tingkat risiko virus Shamonda bagi manusia belum dapat disimpulkan secara menyeluruh. Masyarakat diimbau mengikuti informasi dari otoritas kesehatan resmi dan tidak menarik kesimpulan berlebihan berdasarkan satu laporan kasus yang masih dalam penyelidikan.