Kemenkes Catat 109 Juta Warga Ikuti Cek Kesehatan Gratis, Insiden TB Mulai Menurun

Genvoice.id | 24 Oct 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat sebanyak 109.300.240 orang di Indonesia telah menjalani pemeriksaan kesehatan tanpa biaya sepanjang 2026. Pada periode yang sama, pemerintah memperluas layanan rumah sakit di daerah tertinggal dan mencatat penurunan estimasi insiden tuberkulosis (TB) untuk pertama kalinya berdasarkan tren yang dilaporkan.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan capaian tersebut dalam konferensi pers "2 Tahun Pemerintahan Bidang Kesehatan" di Kantor Kementerian Kesehatan, Kamis (22/10). Ketiga capaian itu menjadi bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) yang dijalankan selama dua tahun pemerintahan di bidang kesehatan.

Cek Kesehatan Gratis Jangkau 109 Juta Orang

Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) telah melayani 109.300.240 orang dari total target 130.344.650 sasaran. Jumlah tersebut terdiri atas sekitar 88 juta peserta CKG tahunan dan 21 juta peserta CKG sekolah, sedangkan total warga yang mendaftar mencapai 116.313.018 orang.

Pelaksanaan CKG telah menjangkau 10.319 Puskesmas atau 99,8 persen dari seluruh Puskesmas yang teregistrasi. Program tersebut juga telah tersedia di seluruh 514 kabupaten/kota dan 38 provinsi di Indonesia.

Budi menjelaskan, pemeriksaan kesehatan gratis dirancang untuk meningkatkan rata-rata angka harapan hidup masyarakat Indonesia dari 72 tahun menjadi 76 tahun. Upaya tersebut dilakukan dengan mendeteksi sejak dini empat faktor risiko utama penyebab kematian dini, yakni hipertensi, diabetes, dislipidemia atau kolesterol tinggi, serta obesitas.

"Kalau kita bisa mengukur keempat faktor risiko tadi, obesitas, tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, sama kolesterol tinggi kita bisa menurunkan sampai 80 persen dari kematian yang disebabkan oleh penyakit kardiovaskular seperi penyakit jantung, pembuluh darah, stroke, serangan jantung, dan masalah ginjal," ujar Menkes Budi.

Hasil pemeriksaan kemudian ditindaklanjuti melalui pelayanan kesehatan di lapangan. Warga yang terdeteksi memiliki risiko penyakit mendapatkan penanganan dan pengobatan gratis di Puskesmas agar kondisi kesehatannya membaik dan indikator kesehatannya kembali normal.

Sebanyak 66 RSUD Dibangun di Daerah Tertinggal

Pada pilar kedua PHTC, pemerintah membangun 66 Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di wilayah tertinggal yang sebelumnya berstatus Kelas D. Pembangunan dilakukan secara bertahap untuk memperluas akses masyarakat terhadap fasilitas kesehatan yang lebih lengkap.

"Pembangunannya dibagi dalam beberapa tahap: 22 RSUD masuk batch 1 dan 2 tahun 2025, dengan 21 unit di antaranya sudah rampung 100 persen dan beroperasi penuh. Sebanyak 20 RSUD lain tergabung dalam batch 3 dan 4 tahun 2026, sedangkan 24 RSUD pada batch 5 dan 6 tahun 2027 masih dalam tahap perencanaan" tandas Menkes Budi.

Rumah sakit di Kabupaten Kepulauan Anambas, Buru, Bengkulu Tengah, hingga Kabupaten Keerom, Papua, kini dilengkapi peralatan medis yang setara dengan fasilitas rumah sakit di Pulau Jawa. Peralatan tersebut mencakup mammografi untuk mendeteksi kanker payudara, CT scan, serta cath lab untuk mendukung tindakan medis terkait penyakit jantung dan stroke.

Meski pembangunan fasilitas terus berjalan, ketersediaan tenaga medis masih menjadi tantangan. Kemenkes mencatat baru 34 dari 66 RSUD atau sekitar 51 persen yang memiliki tujuh jenis dokter spesialis dasar secara lengkap.

Estimasi Insiden TB Turun untuk Pertama Kalinya

Pilar ketiga PHTC berfokus pada penanggulangan tuberkulosis. Mengacu pada estimasi WHO Global TB Report, Indonesia mencatat penurunan estimasi insiden TB secara berkelanjutan untuk pertama kalinya, dari 1.092.000 kasus pada 2024 menjadi 1.080.000 kasus pada 2026.

Hingga Oktober 2026, sebanyak 666.985 kasus TB telah ditemukan dan dilaporkan, setara dengan 61 persen dari target 972.000 kasus. Dari jumlah tersebut, sebanyak 599.425 pasien atau 90 persen dari target telah memulai pengobatan.

Penemuan kasus didukung penyediaan perangkat portable X-ray dan mesin tes molekuler Near Point of Care (NPOC) di ribuan Puskesmas. Skrining juga diintegrasikan dengan CKG dan dilaksanakan di sejumlah lingkungan masyarakat, termasuk lembaga pemasyarakatan, rumah tahanan, dan pondok pesantren.

Kemenkes mencatat 40.910 warga binaan di lapas dan rutan serta 24.623 santri telah menjalani pemeriksaan TB. Pemeriksaan juga dilakukan melalui kerja sama dengan kementerian, lembaga, dan sektor swasta, termasuk terhadap 8.914 karyawan serta mitra layanan transportasi daring seperti Gojek dan Grab.

Selain memperluas deteksi, pemerintah berupaya membuat pengobatan TB lebih mudah dijalani dengan memperpendek durasi terapi melalui penggunaan regimen obat modern. Indonesia juga berpartisipasi dalam uji klinis fase tiga kandidat vaksin TB M72 yang ditargetkan mulai diproduksi pada awal 2029.

"Dulu TB ini minum obatnya panjang sekali, bisa sampai lebih dari 1 tahun dia minum obat setiap hari. Sekarang turun jadi 12 bulan, turun lagi jadi 6 bulan, yang terakhir kita sudah bisa ada yang bisa 4 bulan. Jadi dengan demikian, obat-obatan TB-nya makin lama makin mudah diterima oleh masyarakat" tandas Menkes Budi.