Inayah Wahid Akui Jadi Anggota Greenpeace, Ungkap Perannya dalam Aksi di Bundaran HI
JAKARTA, GENVOICE.ID - Putri Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Inayah Wahid, mengaku dirinya merupakan anggota Greenpeace dan ikut membantu aksi pembentangan spanduk di Patung Selamat Datang, Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta.
Aksi tersebut berlangsung pada Selasa, 20 Oktober 2026 dan menjadi perhatian publik karena sejumlah aktivis memanjat Patung Selamat Datang untuk membentangkan spanduk. Inayah menegaskan dirinya tidak ikut memanjat patung, tetapi berperan membantu melakukan lobi terkait pelaksanaan aksi tersebut.
Hal itu disampaikan Inayah dalam Dialog Kebangsaan bertajuk "Menjaga Tradisi, Merawat Kebersamaan dan Menguatkan Indonesia" di Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa, Guluk-Guluk, Sumenep, Kamis, 22 Oktober 2026.
Inayah Akui Ikut Bantu Aksi Greenpeace
Dalam dialog tersebut, Inayah menceritakan keterlibatannya dalam aksi Greenpeace yang berlangsung di Bundaran HI. Ia mengatakan keputusan bergabung dengan Greenpeace salah satunya berkaitan dengan pengalaman sang ayah yang pernah bekerja bersama organisasi lingkungan tersebut.
"Saya ini adalah anggota Greenpeace yang kemarin, kalau Bapak Ibu tahu, yang kemarin lagi viral karena manjat apa? Patung HI, banner itu. Saya itu juga main, cuma bantunya itu untuk melobi, karena kalau saya ikut naik ke atas patung, jelas patungnya ambrol," ujar Inayah, dikutip dari video YouTube @ppannuqayahlubangsa.
Dengan pernyataan tersebut, Inayah menjelaskan bahwa keterlibatannya dalam aksi bukan sebagai orang yang memanjat Patung Selamat Datang. Ia mengaku membantu dari sisi lobi agar aksi tersebut dapat berlangsung.
Inayah Pertanyakan Posisi NU Bersama Rakyat
Dalam kesempatan yang sama, Inayah turut menyampaikan pandangannya mengenai makna kebangsaan dan posisi Nahdlatul Ulama (NU) di tengah persoalan yang dihadapi masyarakat. Menurutnya, membela negara tidak hanya berarti mempertahankan bentuk negara, tetapi juga memastikan rakyat sebagai bagian dari negara mendapatkan pembelaan.
"Ketika kita bicara soal kebangsaan, maka yang paling utama itu adalah bukan lagi hanya membela bentuk negaranya, tapi yang penting adalah membela pengisi negaranya yaitu rakyat," ujar Inayah.
Ia kemudian mempertanyakan posisi NU saat ini dalam kaitannya dengan masyarakat. Menurut Inayah, organisasi yang selama ini dikenal memiliki peran besar dalam perjalanan kebangsaan Indonesia perlu memastikan keberpihakannya tetap berada bersama rakyat.
"Nah, peran kita ini, NU ini sekarang posisinya ada di mana? Bersama rakyat atau tidak? Ketika kita dulu selalu dibilang, 'Wah, NU itu tulang punggungnya Indonesia, demokrasi Indonesia.' Hari ini kita di mana? Kita tulang apa hari ini?"
Inayah menilai pembelaan terhadap rakyat menjadi bagian penting dari makna kebangsaan, terutama ketika masyarakat sedang menghadapi tekanan atau kesulitan. Ia berharap NU tidak justru berada di sisi pihak yang dianggap menyebabkan penderitaan bagi masyarakat.
Inayah Tolak Kepentingan Tambang untuk NU
Inayah juga menyampaikan sikap kritisnya terhadap kepentingan tambang yang dikaitkan dengan NU. Ia menilai keuntungan dari sektor tersebut tidak akan dirasakan NU secara keseluruhan, melainkan berpotensi hanya dinikmati oleh segelintir orang.
"Mau diiming-imingi apa pun gak masalah, apalagi kalau diiming-imingi tambang," ujar dia.
Menurut Inayah, ada kepentingan yang lebih besar daripada keuntungan jangka pendek yang bisa diperoleh melalui pengelolaan tambang. Ia pun menegaskan pandangannya bahwa tambang bukan bentuk keuntungan yang akan dirasakan seluruh warga NU.
"Tapi ya maksudnya gini, ada sesuatu yang jauh lebih besar, jauh lebih mahal daripada hanya kepentingan sesaat untuk NU. Sekali lagi, buat saya misalnya, tambang itu tidak pernah akan menjadi keuntungan untuk NU. Tambang hanya akan menjadi keuntungan untuk segelintir orang-orang yang ada di NU," kata Inayah.
Ia kemudian mengaitkan sikap berpihak kepada rakyat dengan warisan perjuangan para kiai dan masyaikh terdahulu. Inayah menyebut kedekatan Mbah Hasyim dengan para petani serta sikap Gus Dur yang pernah ikut memprotes rencana pembangunan PLTN ketika menjabat sebagai Ketua Pengurus Besar NU.
Pendidikan Jadi Koridor Perjuangan
Selain berbicara mengenai posisi NU dan persoalan tambang, Inayah menekankan pentingnya pendidikan sebagai ruang perjuangan. Ia berharap para kiai, nyai, dan tokoh NU tetap menjadikan pendidikan sebagai salah satu jalur utama untuk memperjuangkan kemerdekaan sesuai tantangan zaman.
"Tapi memang yang paling penting para kiai, nyai dan semuanya tetap berada dalam koridor perjuangan dalam konteks pendidikan. Karena ketika kita bicara pendidikan, kita berada di garis paling depan dalam memperjuangkan kemerdekaan sesuai dengan konteksnya. Apapun itu konteksnya hari ini," ucap Inayah.
Menurutnya, sikap para tokoh terdahulu dapat menjadi teladan bagi generasi saat ini dalam melihat persoalan masyarakat. Ia menempatkan keberpihakan kepada rakyat dan pendidikan sebagai bagian penting dari perjuangan yang tetap relevan di tengah perubahan zaman.