Putin Tegaskan Tak Akan Tunduk pada AS, Akui Sanksi Bisa Timbulkan Kerugian bagi Rusia

Genvoice.id | 24 Oct 2025

JAKARTA, GENVOICE.ID - Presiden Rusia Vladimir Putin menegaskan bahwa negaranya tidak akan pernah tunduk pada tekanan Amerika Serikat, meski ia mengakui bahwa sanksi baru dari Washington dapat menimbulkan "beberapa kerugian" bagi perekonomian Rusia.

Pernyataan itu muncul setelah pemerintahan Donald Trump menjatuhkan sanksi terhadap dua raksasa minyak Rusia, Rosneft dan Lukoil, beserta hampir tiga lusin anak perusahaan mereka. Langkah tersebut bertujuan menekan Moskow agar mengakhiri perang di Ukraina. Sementara itu, Uni Eropa juga menyetujui larangan bertahap terhadap impor gas alam cair Rusia dan menambahkan dua perusahaan minyak asal Tiongkok ke dalam daftar sanksinya.

Sanksi ini merupakan yang pertama kali diberlakukan AS terhadap Moskow sejak Trump kembali ke Gedung Putih pada Januari lalu. Washington berharap, pembatasan terhadap perusahaan yang menguasai hampir setengah ekspor minyak Rusia itu akan menekan sumber pendapatan utama Kremlin.

Dalam konferensi pers pada Kamis (23/10), Putin menyebut sanksi tersebut sebagai "tindakan tidak bersahabat yang tidak membantu memperkuat hubungan Rusia-Amerika." Ia menilai tekanan dari AS tidak akan menggoyahkan sikap Rusia. "Tidak ada negara yang menghormati dirinya sendiri yang akan bertindak di bawah tekanan," tegasnya.

Meski menyebut dampaknya tidak akan terlalu signifikan, Putin mengakui adanya potensi kerugian. Ia juga menuduh Washington bertindak demi kepentingan lain, bukan untuk rakyat Amerika. "Trump seharusnya berpikir siapa sebenarnya yang diuntungkan oleh kebijakan semacam ini," ujarnya, sambil memperingatkan bahwa langkah tersebut dapat menyebabkan lonjakan harga minyak global.

Sanksi AS yang baru juga melarang negara atau perusahaan asing melakukan bisnis dengan Rosneft dan Lukoil. Dampaknya langsung terasa: India dan Tiongkok - dua pelanggan utama energi Rusia - dilaporkan mulai menahan impor minyak mereka karena khawatir terkena imbas sanksi sekunder. Reliance Industries, perusahaan swasta terbesar India, mengonfirmasi bahwa mereka tengah "menyesuaikan ulang" pembelian minyak Rusia sesuai kebijakan pemerintah.

Kementerian Luar Negeri Tiongkok menanggapi keras langkah Uni Eropa dengan menyebut sanksi terhadap dua kilang minyaknya sebagai tindakan "ilegal dan sepihak".

Meski begitu, sejumlah analis menilai Rusia kemungkinan besar akan mencari cara untuk menghindari sanksi, seperti melalui "armada bayangan" kapal tanker dan jaringan perusahaan perantara di Timur Tengah dan Asia. Namun, para ahli memperingatkan bahwa efektivitas sanksi kali ini akan bergantung pada seberapa ketat Washington menegakkannya, termasuk terhadap negara-negara yang masih menjalin bisnis energi dengan Moskow.

Putin menutup pernyataannya dengan mengatakan bahwa dirinya masih terbuka untuk berdialog dengan Trump, meskipun hubungan kedua negara sedang memanas. "Dialog selalu lebih baik daripada perang," katanya.