Bocor! Dua Lipa Berani Pecat Manajer yang Coba Bungkam Grup Pro Palestina di Glastonbury

Genvoice.id | 24 Sep 2025

JAKARTA, GENVOICE.ID - Siapa yang tak kenal Dua Lipa? Penyanyi pop dunia yang seringkali menggemparkan industri musik internasional dengan lagu-lagunya ini lagi jadi sorotan loh Gen!

Kenapa tidak, itu semua disebabkan karena penyanyi berkebangsaan Inggris ini telah memecat manajer lamanya, David Levy, setelah muncul laporan bahwa sang manajer terlibat dalam upaya sistematis untuk menghalangi grup hip hop asal Irlandia, Kneecap, tampil di Glastonbury Festival 2025.

Dilansir dari Daily Mail, Levy disebut sebagai penggagas surat rahasia dan konfidensial yang ditujukan kepada pendiri festival, Michael Eavis, yang isinya mendesak agar penampilan Kneecap dibatalkan dengan alasan politis. Surat tersebut diduga kuat bermuatan tekanan politis yang tidak sejalan dengan prinsip-prinsip kebebasan berekspresi dalam dunia seni dan musik.

Kabar soal surat itu bocor ke publik dan langsung memicu reaksi keras dari Dua Lipa. Seorang sumber industri musik mengungkapkan bahwa pelantun Don't Start Now itu segera memutus kontrak dengan Levy, menyatakan bahwa ia menolak segala bentuk tekanan politis yang membungkam suara musisi lain.

"Dia memastikan David Levy tidak lagi mengurusi produksi musik maupun kariernya," ujar sumber tersebut.

Keputusan tegas ini dinilai mencerminkan komitmen Dua Lipa terhadap prinsip keadilan dan kebebasan berekspresi, terutama dalam konteks konflik Palestina-Israel.

Diketahui, Dua Lipa memang dikenal vokal mendukung Palestina. Pada Mei tahun lalu, ia secara terbuka mengecam genosida yang dilakukan Israel di Gaza, dan aktif dalam aksi solidaritas, termasuk mengkritik keterlibatan pemerintah Inggris dalam konflik tersebut.

Terlepas dari tekanan yang muncul, Kneecap akhirnya tetap tampil di Glastonbury pada Juli lalu. Meski sempat ada penyelidikan dari pihak kepolisian atas keluhan yang masuk, kasus ditutup karena tidak ditemukan bukti pelanggaran. Pihak Kneecap menyebut penyelidikan itu sebagai bentuk intimidasi politik berkedok penegakan hukum.

Konflik Palestina-Israel sendiri terus memburuk sejak serangan besar pada 7 Oktober 2023, dengan jumlah korban tewas di Gaza kini mendekati 65.300 jiwa, mayoritas di antaranya adalah perempuan dan anak-anak. Situasi ini telah memicu gelombang solidaritas global, termasuk dari kalangan musisi dan seniman internasional.