Emma Raducanu Ungkap Hidup di Bawah Bayangan Negativitas Sejak Juara US Open

Genvoice.id | 24 Aug 2025

JAKARTA, GENVOICE.ID - Emma Raducanu akhirnya buka suara tentang tekanan besar yang ia rasakan setelah kejutan historis di US Open 2021. Petenis Inggris berusia 21 tahun itu mengaku bahwa "dunia penuh negativitas" dan komentar merendahkan telah memengaruhi perjalanan kariernya sejak empat tahun lalu.

Nama Raducanu melejit seketika saat ia menjadi qualifier pertama yang memenangkan Grand Slam, sebuah prestasi nyaris mustahil yang dicapai pada usia 18 tahun di New York. Namun, kemenangan itu juga membawa ekspektasi luar biasa besar. Alih-alih bisa menikmati proses berkembang, Raducanu harus menghadapi sorotan media, kritik publik, serta cibiran setiap kali gagal memenuhi standar yang telah terlanjur tinggi.

Dalam wawancaranya menjelang US Open 2025, Raducanu mengaku kini berada di tempat yang lebih baik secara mental. "Saya merasa lebih rileks dan bahagia sekarang," ujarnya. "Tapi saya tidak bisa bohong, dunia yang penuh dengan energi negatif dan kecenderungan untuk menjatuhkan orang sudah memengaruhi saya dalam beberapa tahun terakhir."

Sejak kejayaan di Flushing Meadows, jalan Raducanu memang tidak selalu mulus. Ia kerap diganggu cedera, berganti pelatih beberapa kali, dan berjuang menemukan konsistensi di level tertinggi. Meski begitu, sejak Maret lalu performanya terlihat lebih stabil. Ia berhasil menembus babak ketiga di dua turnamen Grand Slam musim ini, hanya saja langkahnya terhenti oleh lawan sekelas Iga Swiatek dan Aryna Sabalenka-dua petenis teratas dunia.

Raducanu menekankan bahwa perjalanan seorang atlet muda tidak bisa hanya diukur dari trofi. "Terlalu banyak orang yang ingin melihat Anda gagal begitu mencapai puncak," katanya. "Butuh waktu untuk benar-benar memahami siapa diri saya di dalam dan di luar lapangan."

Konsistensi barunya membuat publik Inggris kembali berharap Raducanu bisa mendekati performa brilian 2021. Namun, ia sendiri lebih memilih fokus pada proses. Dengan usia yang masih muda, Raducanu punya cukup ruang untuk kembali mengukir kejutan di turnamen-turnamen besar.

US Open tahun ini juga menjadi kesempatan baginya untuk menulis bab baru. Meski statusnya sebagai British No.1 membawa beban tersendiri, Raducanu kini terlihat lebih matang dalam menghadapinya. Jika mampu menjaga kondisi fisik dan mental, tidak menutup kemungkinan dirinya akan kembali bersaing di papan atas tenis dunia.

Kisah Raducanu adalah pengingat bahwa kemenangan besar bisa jadi awal dari perjalanan berat, bukan akhir yang manis. Namun dengan ketenangan baru yang ia temukan, dunia mungkin akan segera melihat versi terbaik Emma Raducanu lagi.